Chrysocolla in Chalcedony atau Chrome Chalcedony?

 rough chrome

  Dua bulan terakhir ini, kami melakukan suatu riset yang khusus ditujukan untuk mencari tahu salah satu mineral dimana tampilan luarnya sangat mirip dengan Chrysocolla in Chalcedony atau yang banyak di sebut Bacan oleh masyarakat. Batu ini memiliki kandungan warna biru yang cukup kuat layaknya Chrysocolla in Chalcedony, namun jka diteliti lebih lanjut, ternyata terdapat juga tanda-tanda batu ini memiliki unsur Chromium didalamnya. Baik Chrysocolla in chalcedony maupun Chrome Chalcedony memang sejatinya memiliki properties yang sama, keduanya memiliki Refractive Index (RI) di 1.54-1.55, AGG Optic Character, Spesific Gravity 2.50-2.60, Hardness 6.5-7.

  Chrysocolla in Chalcedony adalah salah satu varian dari Chalcedony yang cukup populer. Sebenarnya, Chrysocolla dan Chalcedony adalah dua mineral yang berbeda, dan  dapat ditemukan berdiri sendiri yang mana tentu propertiesnya pun akan berbeda, Chrysocolla memiliki hardness yang cukup rendah yaitu 2-4 saja sedangkan Chalcedony di angka 6.5-7. Jadi dapat disimpulkan bahwa Chrysocolla in Chalcedony adalah adanya mineral Chrysocolla di dalam Chalcedony.

  Chrome Chalcedony  merupakan varian berwarna hijau dari keluarga Chalcedony dimana warna hijaunya berasal dari elemen Chromium, bukan Nickel seperti Chrysoprase ataupun Green Chalcedony. Biasanya, Chrome Chalcedony yang umum dijumpai berwarna intense green, tetapi  ternyata banyak Chrome Chalcedony dari Australia yang berwara hijau agak muda. Chrome bukan lah mineral layaknya Chrysocolla, melainkan suatu elemen. jadi harap di perhatikan perbedaannya.

  Kami melakukan beberapa rangkaian pengujian dengan metode studi komparatif (perbandingan). Dimana dalam penelitian ini, fokus kami adalah untuk meneliti dan memastikan, apakah batu yang tampilan luarnya sangat mirip dengan Chrysocolla in Chalcedony ini benar merupakan Chrysocolla in Chalcedony atau bukan. Karenanya kami akan membandingkan sample Chrysocolla in Chalcedony dan Chrome Chalcedony dengan batu tersebut. Berikut adalah ketiga batu yang kami jadikan bahan penelitian;

foto chrome chalcedony bacan look alike artikel pake logo
dari kiri; Natural Chrysocolla in Chalcedony, Natural chrome Chalcedony dan Batu yang sedang diteliti

 

  1. 20.14 ct, Natural Chrysocolla in Chalcedony (Paling kiri, Sample GRI Lab)
  2. 38.47 ct, Natural Chrome Chalcedony (Tengah, Sample GRI Lab)
  3. 46.71 ct, Batu yang sedang diteliti dan akan dibandingkan (Paling kanan, tampilan mirip seperti Chrysocolla in Chalcedony, sample GRI Lab)

  Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisa “agen” pewarna dari batu ini, apakah Nickel, Chromium atau Copper, karena itu maka rangkaian penelitian ini dapat dilakukan menggunakan beberapa instrument, pertama, Handheld Spectroscope untuk melihat perbedaan spectrum  dari masing-masing sample yang sedang diteliti dimana garis spectrum yang muncul dapat memberikan informasi element yang terkandung didalamnya untuk kemudian ditindak lanjuti menggunakan alat tes selanjutnya.  Kedua, UV-ViS untuk kembali memastikan “peak” yang dapat dilihat dari wavelength dan yang terakhir adalah konfirmatif test dengan Chelsea Filter.

  Test pertama dengan Spectroscope menunjukan bahwa batu nomor  tiga ini memantulkan garis Chromium, hal yang sama juga dapat kita temukan  dari  sample Natural Chrome Chalcedony yang kami jadikan perbandingan dalam penelitian ini (Batu no. 2). Sedangkan Batu no. 1, tidak menunjukan adanya garis Chromium.

sprctrum

Garis Chromium sangat lah penting dalam suatu proses identifikasi, khususnya pada batu-batu tertentu seperti  Chrome Diopside, Chrome Tourmaline, Alexandrite Chrysoberyl, Synthetic Yellow Sapphire, dan lain-lain. Garis Chromium ini dapat kita lihat disekitar 640-an nm sampai 680-an nm.

  Test kedua, menggunakan Advanced testing Equiptment, UV-ViS  untuk melihat perbedaan kandungan unsur penentu yang terdapat didalam ketiga batu ini. Berikut kami tampilkan:

spectra
Garis hitam; Natural Chrysocolla in Chalcedony. Garis merah; Natural Chrome Chalcedony. Garis hijau muda; Batu yang sedang diteliti.

Sumber: Data olahan GRI Lab

  Dari hasil analisa spectroscopy dengan bantuan alat Ultra Violet-Visible diatas, dapat disimpulkan bahwa Natural Chrysocolla in Chalcedony (garis hitam) menunjukan spectrum yang sangat jelas berbeda dengan Natural chrome Chalcedony (garis merah) dan batu no. 3. Sedangkan batu no. 2 yaitu Natural Chrome Chalcedony memiliki kesamaan dengan batu no. 3 yang sedang kami teliti. Keduanya memiliki peak di kisaran 672 (nm) – 674 (nm). Peak ini mengindikasikan adanya kandungan Chromium pada sebuah batu.

  Test ketiga sebagai pelengkap tentu reaksi Chelsea Filter terhadap ketiga batu tersebut. Pada dasarnya, semakin kuat warna hijau pada suatu batu maka akan semakin kuat pula reaksi merah yang terlihat pada Chelsea Filter. Misal, Vivid Green Colombian Emerald akan terlihat sangat merah melalui Chelsea Filter, sedangkan Light pale Green Colombian Emerald akan terlihat pinkish (Bonanno, A, & Matlins, Antoinette L, 1997).

  Sesuai dengan apa yang di jabarkan Bonanno dan Matlins, Reaksi batu ketiga yang sedang kami bandingkan ini tidak semerah Natural Chrome Chalcedony pada umumnya yang berwarna sangat Hijau. Batu ketiga ini hanya bereaksi pinkish, tentu dikarenakan warnanya yang jauh dari kata intense green, melainkan bluish-green atau greenish-blue.

  Dari ketiga serangkaian test diatas, kami menyimpulkan bahwa batu no. 3 yang sedang kami teliti dan kami bandingkan sejatinya adalah Natural Chrome Chalcedony.

serti

  Meskipun sudah mendapatkan jawaban dari serangkaian analisa yang kami lakukan, kami merasa perlu mengirim batu yang kami teliti ini ke Gemological Institute of America (GIA) di Bangkok. GIA pun mengeluarkan hasil yang sama dengan hasil analisa kami, yaitu Natural Chrome Chalcedony.  Namun harap di perhatikan, memang benar terdapat beberapa kemiripan batu no. 3 ini dengan jenis Chrysocolla in Chalcedony , dimulai dari warna sampai dengan inklusi, wajar rasanya jika banyak yang menyebutnya sebagai Chrysocolla in Chalcedony. Karenanya, penjelasan secara detail dan ilmiah mengenai batu ini memang sangat dibutuhkan.

Written by Adam Harits, G.G and Edited by Jesse Taslim, G.G,  Muhammad, A.G & Mingma Sherpa G.G, D.G.I

Photo by Muhammad Ashari

http://www.grilab.net

Courtesy to Gem Research International Laboratory (GRILab)

 

 

Referensi:

Matlins, Antoinette L., Bonanno. (1997) Gem Identification Made Easy. USA, Gemstone Press.

Chrome Chalcedony, diakses dari http://www.mindat.org/min-39291.html pada tanggal 24 November 2015.

A new chrome Chalcedony occurence from Western Australia, diakses dari http://www.researchgate.net/publication/274885730_A_new_chrome_chalcedony_occurrence_from_Western_Australia pada tanggal 24 november 2015.

Schumann, Walter. (1976). Gemstone of The World (fifth edition). USA, Sterling.

Chrysocolla, diakses dari http://www.gemdat.org/gem-1040.html pada tanggal 24 November 2015.

The Journal of Gemology 2014, Volume 34, no. 1 : Blue Chrysocolla Chalcedony, page 9.

Shen, Andy. Natural-Colored Chrome Chalcedony Identified Using Laser Ablation– Inductively Coupled Plasma–Mass Spectrometry (LA-ICP-MS). GIA Journal.

 

Advertisements

Origin.

1357735065_1!!-!!Gem Mines In sri Lanka 2

Source of picture: http://www.travelonka.com

Origin dalam dunia batu mulia dapat diartikan sebagai asal muasal dimana tempat batu permata ditemukan. Di Indonesia khususnya, Origin menjadi fenomena tersendiri. Fanatisme Origin memiliki dampak positif namun juga negatif. Dampak positif yang telihat adalah apabila di suatu negara, saya ambil contoh Indonesia misalnya, ditemukan jenis-jenis batuan, maka fanatisme ini dapat berdampak positif terhadap perkembangan potensi batu mulia di Indonesia. dampak negatifnya adalah ketika pecinta batu tidak lagi membeli, menjual ataupun mengoleksi batu permata berdasarkan keindahannya, namun hanya berdasarkan Orignnya. Lantas langkah-langkah apa yang penting dijalani dalam menentukan Origin? apakah Origin merupakan suatu ilmu pasti? Apakah semua jenis batu permata dapat ditentukan Originnya? pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang cukup sering ditanyakan kepada kami, para peneliti dan institusi.

Menentukan asal-usul atau Origin batu permata bukan lah perkara mudah. Dalam tahapannya, penentuan Origin terdiri dari beberapa proses yang pada akhirnya dapat melahirkan suatu kesimpulan.

Pertama, Sample. Tahapan pertama ini sangat penting dan fundamental,  dibutuhkan sample batu langsung dari tambang dan negara yang ingin diteliti. Sample yang didapat pun harus dipastikan memang benar adanya berasal dari tambang tersebut. Cara paling tepat adalah dengan mendatangi lokasi tambang tersebut dan melihat dengan mata kepala sendiri proses pengambilan material dari tambang tersebut.

Kedua, Riset. Tidak serta merta setelah memiliki sample lantas otomatis dapat mengkategorikan asal-usul batu tersebut, justru ini adalah permulaan. sample yang didapat perlu dikaji secara komprehensif, dimulai dari komposisi kimia, karateristik inklusi dan ciri-ciri lainnya sampai dimana kita memiliki argumen dand asar yang jelas dalam menyebut batu permata jenis A berasal dari negara Z.

Ketiga, Perbandingan. Banyak kasus terjadi dimana ciri-ciri antar negara penghasil emmiliki karakter yang mirip dan hampir identik. Disinilah studi komparatif dibutuhkan. Artinya adalah membandingkan sample yang mirip tersebut satu sama lain dan secara komprehensif mencari dimana letak perbedaannya. Dalam dunia Gemologi, peneliti diwajibkan untuk terus mengikuti perkembangan terkini, karena hampir setiap tahunnya ada tambang baru yang ditemukan.

Ketiga tahapan diatas harus melengkapi satu sama lain. Kita tidak bisa menentukan Origin hanya dari salah satu tahapan. Namun seringkali meski telah melakukan ketiga tahapan utama diatas, penentuan Oirign, boleh dibilang, masih kerap kali keliru. Hal ini bisa terjadi karena tiga tahapan diatas bukan lah ramuan sakti yang dapat memberikan jawaban begitu saja, bahkan, perlu diingat, meskipun ketiga tahapan diatas telah dilalui, penentuan Origin tetaplah suatu Opini yang didasari oleh Riset. Kekeliruan dalam menentukan origin sangat mungkin terjadi, tetapi kekeliruan itu haruslah memiliki dasar.

niessing-theme-max-04

Lalu bagaimana dengan batu-batu jenis lainnya, seperti misalnya Peridot, Topaz, Quartz, Zrcon, Tourmaline, dan lain-lain? Mengacu terhadap standar Universal, batu-batu jenis ini tidak lah menjadi kajian utama dalam penentuan Origin. Hal ini, menurut penulis, disebabkan banyak hal. Satu, karena memang karakter antar negara satu dengan lainnya tidak dapat dibedakan. Dua, harga dari batu-batu tersebut yang tidak sebanding dengan biaya riset yang harus dikeluarkan. Tiga, budaya yang telah berlangsung lama di seluruh dunia, dimana penyebutan Origin hanya lah antar penjual dan pembeli tanpa menuntut lembaga riset batu permata untuk meneliti atau mencari tau Originnya. Bagi penulis sendiri, budaya yang terjadi secara global ini layak untuk di contoh. sadar atau tidak, sejujurnya budaya ini cukup bagus. Bayangkan jika lembaga riset dituntut untuk melakukan hal yang mereka belum mampu, apa yang terjadi? Pembodohan publik. Demi memberikan kepuasan kepada pecinta batu dan menghindari kontroversi, lembaga riset memilih untuk asal menulis Origin batuan dengan hanya mengandalkan google. Siapa yang pada akhirnya dirugikan?

 

Adam Harits, G.G

GRI-Lab Gemologist

Membedakan Green Chalcedony,Chrome Chalcedony, Chrysocolla-in-Chalcedony, Chrysoprase Chalcedony, dan DyedChalcedony.


chrome chalcedony

Chalcedony adalah sebuah nama yang diberikan kepada seluruh jenis cryptocrystalline quartz, yang mana mineralnya terdiri dari cystal-crystal kecil silica yang menyatu dan membentuk chalcedony tersebut. Dapat diartikan bahwa Chalcedony tidak terdiri dari satu crystal besar saja seperti halnya Macrocystalline quartz yang terdiri dari Citrine, Amethyst,Rose Quartz, dan lainnya. Meskipun cystal-crystal yang membentuk chalcedony bisa dikatakan cukup rapat, tetapi tetap saja menjadikan batu ini Pouros, yaitu berpori-pori sehingga dapat mudah menyerap sehingga chalcedony menjadi batu yang paling banyak dilakukan proses dyed atau pewarnaan.

Chalcedony pun terbagi lagi menjadi sub-varieties, khusus di bahasan kali ini, saya akan berfokus pada Green Chalcedony, Chrome Chalcedony, Dyed Chalcedony, Chrysocolla-in-Chalcedony dan Chrysoprase Chalcedony.
Lalu apa sih perbedaan antara Green, Chrsyoprase, Chrome dan dyed Chalcedony?  dan yang lebih penting lagi, bagaimana membedakannya?  Mari kita ulas satu per satu.
1379486856_547477727_7-Green-Chrome-Chalcedony-51-NEW-Indonesia
Green Chalcedony adalah Rajanya keluarga Chalcedony di Indonesia. Jauh sebelum Chrysocolla in Chalcedony diketahui banyak orang, Green Chalcedony sudah lebih dulu memikat hati pecinta batu asal Indonesia. Sejatinya, Green Chalcedony dan Chrysoprase memiliki warna hijau yang berasal dari trace element yang sama, yaitu Nickel Oxide. Jadi pada dasarnya perbedaan antara Chrysoprase dan Green Chalcedony hanyalah dari warnanya saja. Green Chalcedony berwarna hijau murni, sedangkan Chrysoprase berwarna yellowish green atau biasa disebut applegreen.

Yang penting untuk diperhatikan adalah cara membedakan Green/Chrysoprase Chalcedony dengan Dyed Chalcedony. Pengertian dyed disini adalah suatu proses penambahan warna guna memberikan warna hijau terhadap varian Chalcedony. Mengapa penting? Karena baik Green dan Chrysoprase memiliki nilai jauh diatas Dyed Chalcedony, lalu Green dan Chrysoprase juga lebih langka, berbeda dengan dyed Chalcedony yang dapat anda temukan dan import dalam skala besar sekalipun. Lalu bagaimana membedakan Green/Chrysoprase dengan dyed Chalcedony? Pertama, karakteristik inklusi. Green/Chrysoprase memilki ‘serat’ atau ‘tali air’ yang tidak beraturan, sedangkan dyed Chalcedony memiliki serat yang lebih besar dan hampir selalu satu arah (perhatikan serat-serat yang terdapat di Carnelian ataupun Agate, kurang lebih seperti itu). Kedua, adalah dengan menggunakan Chelsea filter, Green/Chrysoprase tidak akan bereaksi menggunakan Chelsea filter dikarenakan Chelsea Filter tidak akan ‘membaca’ reaksi dari Nickel, sedangkan dyed Chalcedony akan bereaksi dengan berubah menjadi grayish atau pinkish.
ChelseaFilter
Sekarang mari kita bergerak ke pembahasan selanjutnya, Chrome Chalcedony atau ada sebagian yang menyebutnya Mtroloite, memiliki warna hijau yang berasal dari Chromium. Inklusi Chromite yang tersebar secara acak dan menyeluruh dalam Chrome Chalcedony menjadikan varian ini cukup mudah untuk dibedakan dengan dyed Chalcedony. Sedangkan cara lainnya yang juga cukup membantu adalah lagi-lagi penggunaan Chelsea Filter. Sudah saya sebutkan tadi jika dyed Chalcedony akan bereaksi grayish atau pinkish, jika sebelumnya saya paparkan bahwa Green/Chrysoprase Chalcedony tidak akan bereaksi, justru dengan Chrome situasinya berbeda. Chromium akan bereaksi terhadap Chelsea Filter, akibatnya anda akan melihat warna merah yang sangat kuat dalam penggunaan Chelsea Filter untuk Chrome Chalcedony. Chrome Chalcedony diketahui terdapat paling banyak di Zimbabwe, disusul oleh Australia dan Indonesia (meskipun sangat sedikit, yaitu Kalimantan Tengah dan Jawa barat)
Pembahasan yang terakhir mengenai Chrysocolla-in-Chalcedony yang mana dua tahun kebelakang ini terus menjadi buah bibir dan ikut memberikan andil dalam ‘merakyat’nya batu mulia asal Indonesia ke seluruh kalangan. Apa lagi batu ini terkenal dengan kemampuannya berubah semakin ‘kristal’ (sayangnya referensi ilmiah mengenai ini belum dibahas dan diteliti bersama layaknya treatment atau jenis batu-batu lain di dunia). Di luar Negeri, Chrysocolla in Chalcedony dikenal sebagai “Gem Silica”  sedangkan di Indonesia dikenal dengan istilah “Bacan”.  Element yang memberikan warna blue-green, bluish-green, greenish-blue maupun green-blue adalah Copper.

rough_chrysocolla_mexican

Tahukah anda darimana asal usul istilah “bacan” melekat dan identik dengan Chrysocolla in Chalcedony? Bacan adalah nama pulau yang terletak di wilayah Maluku. Pulau Bacan di kelilingi oleh beberapa pulau lainnya. Pada awalnya, masyarakat dari pulau-pulau sekitar melakukan jual beli batu hijau/biru di pulau Bacan ini, mulai lah dari situ munculnya istilah batu Bacan yang kemudian baru diketahui bahwa batu hijau/biru tersebut adalah varian Chrysocolla in Chalcedony. Uniknya, Chrysocolla in Chalcedony sendiri bukan berasal dari pulau Bacan, melainkan pulau Kasiruta. Awal tahun 2000-an, para pelaku batu permata di Indonesia belum sadar akan potensi batu asal Indonesia ini. Justru mereka disadarkan ketika perlahan-lahan orang asing, khususnya dari Taiwan dan Korea Selatan mulai datang dan membeli varian Chrysocolla in Chalcedony ini. Belum lagi ketika mantan Presiden kita, Bapak SBY memberikan “Bacan” sebagai kenang-kenangan kepada Presiden Amerika, Obama. Rentetan peristiwa ini perlahan tapi pasti membangun pasar baru yang dampaknya tidak pernah terpikirkan oleh kita semua. Saat ini, dilaporkan bahwa Chrysocolla in Chalcedony juga terdapat di wilayah pesisir Sumbawa dan Papua. Sedangkan di Dunia, Peru dan Arizona masih mendominasi. Sudah saatnya Chrysocolla in Chalcedony Indonesia menggeser dominasi Peru dan Arizona, melihat dari segi kualitas, Chrysocolla in Chalcedony Indonesia, bagi saya pribadi tetap yang paling menarik. Mungkin saya sedikit bias dalam mengatakan ini, namun perkataan saya didasari fakta jika saya memeriksa varian ini setiap harinya. Dan tidak ada hari yang terlewat tanpa saya belajar sesuatu yang baru dari varian ini. Jika anda tertarik untuk melihat foto inklusi  serta membaca penjelasan properties Chrysocolla in Chalcedony, silahkan kunjungi wordpress rekan saya, pak Jesse, http://jesse-taslim.com/2015/02/22/chrysocolla-in-chalcedony-bacan/

Kedepannya akan saya masukan foto-foto inklusi Dyed Chalcedony, Green/Chrysoprase dan Chrome Chalcedony. Terima kasih, semoga bermanfaat.

salam,

Adam Harits, G.G

GRILab Gemologist

www.adamharits.com

Alexandrite Chrysoberyl

Terjadi kesimpang siuran di pasar batu mulia, khususnya di Indonesia bagaimana menentukan Alexandrite Chrysoberyl yang sesungguhnya.

Image

Sedikit meluruskan dari banyaknya presepsi kita yang ‘salah’. Ada beberapa poin yang membuat saya tertarik untuk meluruskan dan membantu para pecinta batu mulia agar dapat lebih memahami makna dari alexandrite itu sesungguhnya. Karena seperti yang kita tahu, alexandrite chrysoberyl terutama di indonesia ini banyak disalah artikan.

Perlu diingat alexandrite chrysoberyl adalah perubahan warna dari green/bluish green ke salmon red/purple. Lalu bagaimana jika perubahannya yellow ke green? Saya jelaskan sedikit. Hampir disemua chrysoberyl mengandung warna diantara yellowish green, greenish yellow, yellowish orange, brownish yellow, yellowish brown dll. Jarang chrysoberyl warnanya itu pure green saja seperti emerald atau tourmaline misalnya. Yang saya ingin sampaikan disini, jika perubahan chrysoberyl dari hijau ke yellow atau sebaliknya, tidak bisa disebut color change. Ya, karena itu memang bukan color change. Dan memang tidak ada sebutan ‘color change’ saja untuk chrysoberyl, karena saya dapati beberapa pihak yang mengklaim bahwa perubahan hijau ke kuning atau orange memang tidak bisa disebut alexandrite chrysoberyl, tetapi bisa disebut color change chrysoberyl, dan jujur saya mempertanyakan teori darimana yang mereka ambil?  yang disebut color change sudah pasti alexandrite. yang namanya alexandrite sudah pasti color change.

teori ini sudah ada dari dulu dan sampai detik ini pun tetap berlaku. Warna hijau yang mengandung yellow, ketika disenter lampu putih tentu hijaunya akan dominan, dan jika disenter kuning, berubah menjadi kuning. Mengapa? Simple, cahaya kuning tentu merangsang warna kuning menjadi dominan, dan kita harus ingat, color change itu perubahan warna dasar dari A ke B, terlepas dari berapa persen perubahannya itu sendiri, misal dari green lalu berubah sedikit saja ke merah, tetap disebut alexandrite. bukan pergeseran warna yang sering diartikan sebagai alexandrite selama ini yaitu hijau ke kuning atau sebaliknya. Mari kita berpikir logika sejenak, ga usah jauh2, lihat warna kulit kita, lalu ambil senter kuning dan senter kulit kita. Apakah kulit kita juga color change? Atau tembok putih, lalu senter kuning, pasti kuning juga.

Jadi saya rasa kita harus memulai dari dini untuk mengikuti standar international. Karena hanya di indonesia saja yang menyebut yellow ke green atau sebaliknya adalah color change. Dan tentu hal ini akan berdampak buruk bagi pasar batu di Indonesia, dalam jangka pendek maupun panjang. mengapa bisa begitu? saya akan beri sedikit contoh kasus, misal, karena kebiasaan “kita” menyebut chrysoberyl yang mengandung warna hijau dan kuning itu alexandrite, ntah suatu saat batu tersebut dibawa oleh sang pemilik batu ke luar negeri mungkin untuk dijual atau sekedar menunjukan kepada pemain batu di luar negeri dan menyebutnya alexandrite beserta sertifikatnya, apa kata dunia? mereka akan berpikir apakah orang-orang indonesia segitu hebatnya sampai tidak bisa membedakan alexandrite? apakah orang indonesia tidak bisa lebih menghargai nilai dari alexandrite yang asli? Alexandrite chrysoberyl merupakan salah satu fenemona langka yang terdapat di chrysoberyl, ingat, langka. langka berarti memiliki nilai yang lebih. begitu banyak dampak yang akan kita alami tentunya.  Dunia permata berkembang dengan sangat cepat, jangan sampai kita ketinggalan. keep it update.Terima kasih, salam sukses.

Adam Harits, G.G

GRI-Lab Gemologist

New Type of Corundum Treatment; Cobalt-Infused lead-glass-filled Sapphire

Beberapa bulan terakhir ini, market batu permata dinegara kita ini seperti diserbu oleh kehadiran batu Natural Sapphire, dengan warna biru yang cukup attraktif dan berharga sangat murah dibanding Natural Sapphire pada umumnya. Kami cukup tertantang untuk melakukan riset tentang batu-batu tersebut. Dan ini lah yang kami dapatkan.

Penemu metode sapphire ini adalah orang Thailand yang memang hidupnya dihabiskan untuk mencari dan menemukan treatment-treatment terbaru yang bisa diaplikasikan untuk batu permata dan mencari keuntungan pastinya.

Bahan awal dari sapphire yang memiliki beberapa sebutan, “Cobalt-dopped glass filled sapphire” , “Cobalt-Infused lead-Glass-Filled Sapphire”, “Composite-Sapphire” adalah nearly colorless corundum atau sedikit bluish, hampir opaque(tidak transparan), dan dipenuhi oleh inklusi-inklusi dan juga crack-crack diseluruh batu.

Bahan-bahan rough corundum ini lalu di rendam beberapa minggu didalam cairan acid. Setelah direndam, baru lah rough-rough tersebut di bakar dengan suhu mulai dari 1200 derajat celcius sampai dengan 1300 derajat celcius untuk rentang waktu antara 4 sampai dengan 10 jam, dalam proses pembakaran ini lah dimana cobalt element dan glass filled masuk kedalam bahan-bahan rough corundum tersebut, glass filled disini merapatkan crack-crack yang terdapat di rough, sedangkan cobalt element menghasilkan warna biru Kristal yang akhirnya terpancar dari rough-rough tersebut. Baru setelahnya mereka mencutting dan menjualnya dipasaran.

Sekarang, mari kita bahas mengapa terjadi banyak perbedaan nama dalam menyikapi treatment terbaru ini, mengapa sampai ada yang menyebut batu-batu ini adalah composite?

Australian-Gemologist mempunyai pandangannya sendiri seperti yang terdapat didalam website www.ruby-sapphire.com , bahwa mereka menganggap batu-batu yang mereka sebut dengan Cobalt-Dopped Glass Filled Sapphire ini sebagai “composite” karena bahan-bahan rough tersebut telah melalui treatment yang sangat signifikan, dan cobalt serta glass filled menguasai hampir 90% didalam isi batu, dan Dopped disini berarti kurang lebih sama dengan Diffused, jadi jika kita ambil kesimpulan mengenai Cobalt-Dopped disini adalah element Cobalt yang di diffused kesetiap celah-celah yang terdapat di permukaan batu, itulah opini mereka yang menurut saya pribadi cukup masuk akal tetapi salah kaprah. Lalu disamping itu Ted Themelis, salah satu pakar riset treatment batu permata, dalam websitenya http://themelis.com/Education-Pb-Co.html mengcounter opini dari Australian-Gem, menurutnya istilah Dopped/Diffused untuk treatment di Corundum ini kurang tepat, karena sudah jelas bahwa Cobalt element serta glass filled sama-sama masuk kedalam batu dan setiap celah, bukan hanya yang dekat dengan permukaan, itulah alasan Ted menggunakan istilah Cobalt Infused Lead Glass Filled.

Lalu bagaimana dengan GRI Lab? Dari riset yang kami lakukan, kami sependapat dengan apa yang diungkapkan Ted Themelis, bahwa batu-batu ini adalah Natural Sapphire yang telah melalui heavy treatment, karena itu perlu dipahami arti dari H(c) + D- Dyeing yang selalu dicantumkan GRI Lab disetiap Gem-id ataupun Seritifkat untuk batu-batu Sapphire ini. H(c) yang dimaksud disini adalah sama dengan yang terdapat di ruby, yaitu glass filled, lalu istilah Dyeing yang kami gunakan adalah untuk mengartikan element cobalt yang memberikan warna kedalam bahan-bahan corundum tersebut sehingga menjadi berwarna biru. Bukan tidak mungkin jika kedepannya GRI Lab akan menciptakan istilah baru di comment section, misalnya dengan mengganti istilah H(c) + D-Dyeing, dengan Cobalt-Glass Filled Treated. Tetapi kami masih terus mengkaji, perlu atau tidaknya perubahan comment tersebut, mengingat kedua istilah diatas adalah sama pada dasarnya.

 Pada section terakhir ini saya tertarik untuk sedikit membahas tentang durability dari sapphire Cobalt-Glass Filled Treated ini, Cobalt-Glass Filled sapphire ini sangat tidak stabil dan membutuhkan perawatan khusus, jangan merendam batu ini didalam cairan acid ataupun detergent, karena dapat menyebabkan kerusakan.

Saya harap informasi ini dapat bermanfaat untuk kita semua, terima kasih, dan sukses selalu

Adam Harits, G.G

GRI-Lab Gemologist