Diamond Tester, apa sih fungsi dan cara kerjanya?

d6fd927c-3803-46f2-94fb-70a8362c8498_1.f85dbf816582938429e4f02bb3b26a30

Mungkin jika ada satu alat yang sangat populer, dan diketahui oleh banyak orang, dari yang awam sampai yang pengalaman di dunia batu permata tak lain adalah Diamond Tester. Karena itu juga, alat ini sering dipahami dengan cara yang salah. Banyak asumsi yang beredar, apabila angkanya naik, maka batu yang diuji adalah batu Natural, dan sebaliknya apabila angkanya tidak naik, batu yang diuji dianggap sintetis atau masakan atau angka-angka yang tertera tersebut mengindikasikan kekerasan (hardness) batu. Well, anggapan diatas keliru.

Dalam pembahasan kali ini, saya akan sedikit menjelaskan tentang Diamond Tester, serta prinsip kerja alat ini sehingga saya harapkan setelah membaca artikel ini, kita semua tidak lagi keliru memahami sang selebritis ini.

Apa sih Diamond Tester?

Diamond Tester adalah alat portable yang dapat menguji dengan memberikan indikasi apakah batu tersebut Diamond atau bukan. Sesederhana itu, makanya diberi Diamond Tester, bukan Gemstones Tester karena memang fungsi utamanya hanya untuk Diamond, meskipun pada perkembangannya, alat ini juga dialihfungsikan untuk menguji batu-batu lainnya.

Prinsip Kerja Diamond Tester

Masing-masing batu permata menyalurkan panas yang berbeda satu sama lain, dan hal ini yang menjadi dasar prinsip kerja Diamond Tester. Dalam dunia gemologi, kami terbiasa mengenali istilah batu permata Natural akan terasa dingin jika dipegang, sedangkan batu manmade seperti kaca, akan hangat jika dipegang. Apa sains dibalik ini? Pada dasarnya, jari kita bekerja sebagai sumber panas yang akan meningkatkan temperatur suatu permukaan material, dalam contoh kasus pembasahan ini, tentunya adalah permukaan batu permata. Ukuran cepat atau lambatnya perubahan temperatur permukaan suatu batu ini disebut dengan Thermal Inertia, nah semakin tinggi Thermal Inertia suatu batu, maka jari kita tidak bisa meningkatkan temperature permukaan batu tersebut dengan cepat, sehingga jari kita akan tetap terasa dingin, contohnya adalah Diamond. Begitu juga sebaliknya, apabila suatu batu, dalam hal ini kita ambil contoh Kaca, yang mana rendah Thermal Inertia-nya, maka sumber panas dari jari kita akan merasakan hangat dari permukaan kaca tersebut. Ini lah yang menjadi prinsip dasar dari Diamond Tester, mengukur Thermal Inertia pada setiap batu.

71ClMjTPJFL._SX425_

Lalu jika prinsip kerjanya demikian, kenapa kita menemukan angka 1-8 pada Diamond Tester portable ini? Bukan kah itu mengindikasikan suatu hardness?

Menurut hemat saya, angka tersebut hanya sebatas gambaran tinggi atau rendahnya tingkat thermal inertia pada suatu batu yang akan diuji. Semisal batu yang tidak begitu cakap dalam menghantarkan panas (low thermal inertia), Kaca misalnya maka akan sangat lambat naiknya, dan sebaliknya, Diamond, high thermal inertia, meski ditekan dengan penghantar yang hangat, akan naik dengan cepat.

Angka tersebut berfungsi sebagai pembantu untuk mengklasifikasikan saja dan sampai saat ini saya asumsikan bahwa semakin tinggi high thermal inertia pada suatu batu maka semakin tinggi juga mohs scale hardness batu tersebut*.

Jadi, pemahaman yang mengatakan apabila angkanya naik, maka batu yg diuji adalah Natural, dan sebaliknya apabila angkanya tidak naik, maka batu yang diuji dinyatakan masakan/sintetis atau sebagian lagi yang  beranggapan bahwa indikator angka tersebut adalah cerminan dari hardness pada batu adalah keliru, dan sudah terjawab dari penjabaran diatas . Sekali lagi, Indikator angka yang tertera tidak ada kaitannya dengan batu Natural atau masakan, ataupun hardness batu, makanya kalo kita ambil contoh, misalnya, Natural Quartz, apabila diuji dengan alat ini, tidak akan naik full sebab Natural Quartz tidak memiliki thermal Inertia setinggi Diamond misalnya. Sebaliknya, Synthetic Moissanite (kekerasan 9.5) adalah batu masakan dengan kekerasan hampir sama dengan Diamond , apabila diuji akan naik sama dengan Diamond. Kenapa demikian? Karena sekali lagi, prinsip kerja alat ini adalah membaca tingkat Thermal Inertia pada batu dan Synthetic Moissanite dan Diamond memiliki tingkat Thermal Inertia yang hampir sama.

Jadi, apakah Diamond Tester dapat diandalkan?

Ya dan Tidak.

Ya, jika anda hanya ingin sekedar mengetahui apakah batu yang sedang diuji tersebut adalah Diamond atau bukan, maka alat ini dapat diandalkan. Meskipun ini juga masih terbatas, karena kita sudah tahu sekarang, Synthetic Moissanite ataupun lab grown Diamond/CVD, juga akan bereaksi sama, tapi setidaknya sudah meminimalisir kemungkinan-kemungkinan lainnya, sehingga setelahnya kita dapat melanjutkan ke proses analisa lebih lanjut.

Tidak, apabila anda ingin memisahkan jenis-batu, atau ingin mengetahui apakah batu tersebut natural atau bukan.

Saya harapkan dengan membaca artikel ini, kita semua mendapat pengetahuan tambahan dan pemahaman yang komprehensif mengenai Diamond Tester ini.

Diamond tester bukan lah the magic tools everyone once thought, but indeed its essential for a spesific purpose.

 

 

*Asumsi yang saya jabarkan pada bagian tersebut masih harus dikaji lebih dalam karena minimnya referensi yang ada, jadi asumsi perihal high thermal inertia = memiliki mohs scale hardness yang tinggi juga bisa salah.

 

 

Adam Harits, GG

GRI Gemologist

 

 

 

Advertisements

Published by adamharits

well, i hope to provide you with some interesting insight about gemstones! enjoy ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: