Legenda Sintetik

 

Belum lama ini, saya ngobrol-ngobrol santai dengan salah satu pedagang batu yang sarat pengalaman di Pasar Batu Rawabening (JGC), Pak Fafan. Beliau katakan pada saya bagaimana masyarakat awam yang datang untuk beli batu sering kali minim pengetahuan dan informasi, akibatnya pada banyak kesempatan, alih-alih mendapatkan batu yang sesuai, mereka justru tertipu. Pak Fafan cukup khawatir akan situasi dan kondisi seperti ini. Karena itu beliau  menyarankan saya untuk mengulas beberapa batu sintetik yang cukup populer dan sering menjadi senjata bagi para oknum yang gemar memanfaatkan ketidak tahuan masyarakat awam ini.

Batu asli atau palsu sih?

Anda tentunya familiar dengan batu Ruby ataupun Sapphire, kan? Kedua batu ini sangat populer karena warna, kelangkaan serta stabilitas nilai yang mereka punya, sehingga kedua varian dari Corundum ini menjadi batu yang sangat diminati masyarakat. Coba deh, jika kalian sebut Chrysoberyl, mungkin masyarakat yang awam di dunia batu masih ada yang tidak tahu, tapi jika anda sebut Ruby ataupun Sapphire, hampir semuanya pasti tahu, atau setidaknya pernah dengar. Permintaan terhadap Ruby dan Sapphire ini sangat tinggi, dan cenderung tidak sebanding dengan ketersediaannya, yang akhirnya menyebabkan Ruby dan Sapphire berkualitas semakin hari semakin tinggi harganya. Akibatnya,  pelaku pasar menjadi sangat kreatif, mereka akhirnya memutar otak mencari cara bagaimana agar Ruby dan Sapphire kualitas rendah juga diminati hingga mencari alternatif pengganti yang harganya lebih terjangkau. Hasilnya adalah berkembangnya industri treatment batu permata yang sangat pesat guna mempercantik batu Ruby dan Sapphire berkualitas rendah agar juga dapat diperjual belikan serta tumbuhnya industri Sintetik Corundum yang cukup besar. Pada pembahasan kali ini saya tidak akan membahas industri treatment, karena kurang relevan dengan topik yang sedang dibahas. Justru saya akan mengulas secara singkat perihal Sintetik Corundum.

Saudara kembar yang diciptakan melalui serangkaian proses didalam laboratorium ini muncul sebagai alternatif  yang lebih terjangkau harganya dibanding natural Ruby dan Sapphire. Permasalahannya, alternatif batu natural ini sering kali disalah artikan sebagai batu natural. Pertanyaannya, kenapa sampai terjadi seperti itu? Jika kita urutkan rangkaiannya, supplier besar batu sintetik ini tentu menjual sebagai sintetik, sampailah batu ini di pasar Indonesia. Disini lah masalah itu dimulai, karena tahukah anda bahwa batu-batu sintetik ini ternyata tidak serta merta dijual dengan sebutan sintetik Ruby ataupun sintetik Sapphire? Hampir sebagian besar pelaku pasar menyebutnya dengan nama-nama yang sudah melegenda, seperti American Star, Merah Siam dan King Sapphire. Karena itu, saya akan coba mengulas dengan singkat tentang ketiga batu legenda tersebut.

American Star

DSC_3065

American Star, hmm keren. Saya pribadi suka dengan istilah ini, meski saya bingung maksudnya apa? Kenapa musti American? Kenapa gak sekalian Burmese Star? Kan ruby terbaik justru berasal dari Burma. Ntah lah, mungkin menggunakan nama Amerika ini tanpa sadar sangat menjual, hehe. Jadi, apa sih American Star itu? Batu ini sejatinya adalah Sintetik Star Ruby. Fenomena Starnya bukan berasal dari needle yang pada umumnya ditemukan apda batu natural, tetapi dari serangkaian proses yang memang dilakukan untuk menghasilkan fenomena selayaknya star.

 

Merah Siam

DSC_3060

Asal mula nama Merah Siam ini sebetulnya berasal dari kata Siam. Siam adalah nama lain dari negara Thailand. Dari apa yang saya ketahui, negara Thailand memang merupakan penghasil batu sintetik terbesar di dunia selain Tiongkok, dan karena biasanya pemain batu di Indonesia memasukan barang dari Thailand, pada akhirnya mereka menyebut batu sintetik Ruby dari Thailand sebagai Merah Siam. Jadi sudah jelas bahwa batu Merah Siam ini adalah batu Sintetik yang namanya sudah sangat melegenda.

King Sapphire

DSC_3064

Nah, bagian ini yang menurut saya cukup menarik. Jadi ketika diskusi dengan pak Fafan, beliau bilang ke saya, kalau baru-baru ini banyak King Sapphire baru masuk dan dari Thailand,  Menariknya, menurut pak Fafan, King Sapphire ini lebih berat dan padat dari King Sapphire yang sudah banyak di Indonesia dari dulu. Ada yang aneh dengan hal ini. Kok sama-sama King Sapphire bisa beda-beda berat kepadatannya? Harusnya ya sama. Pikiran saya tentu King Sapphire ini sama dengan saudara-saudara lainnya, si Merah Siem dan si American Star, yaitu ya masih keluarga sintetik Corundum. Saya cukup kaget ketika memeriksa sample yang diberikan pak Fafan, ternyata King Sapphire ini adalah Cubic Zirconia! Jelas saja secara berat jauh lebih berat dan terasa lebih padat. Cubic Zirconia memiliki berat jenis ampai 6.00 sedangkan Sapphire hanya 4.00. Jadi dapat saya ambil kesimpulan bahwa mereka berusaha mengimitasi blue Sapphire saat ini bukan hanya dengan bahan sintetik, namun juga dengan bahan lain, dan dalam kasus ini adalah Cubic Zirconia.

 

Saya harap artikel singkat ini dapat bermanfaat dan dapat membantu masyarakat umum guna memahami istilah-istilah yang rawan disalah artikan.

 

Terima kasih.

Advertisements

Published by adamharits

well, i hope to provide you with some interesting insight about gemstones! enjoy ;)

2 thoughts on “Legenda Sintetik

Leave a Reply to adamharits Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: