Ethiopian Emerald; Analisa Origin.

SP17-GNI-fig2_212263-1000x809

Ethiopia belakangan ini mulai hangat diperbincangkan, negara yang terkenal sebagai salah satu penghasil Opal terbesar ini sebetulnya sudah sejak satu dekade yang lalu juga menghasilkan Emerald yang ditambang secara sporadis di wilayah Dubuluk, hanya saja, baik secara kualitas maupun kuantitas, deposit Emerald yang ditemukan belum memuaskan. Baru pada akhir-akhir ini, tepatnya sekitar tahun 2016, deposit baru yang menghasilkan Emerald berkualitas dengan kuantiti yang cukup banyak ditemukan di pedalaman desa, tepatnya di Kenticha dan Dermi, kawasan Seba Boru. Emerald yang didapat dari wilayah ini lantas diperjual belikan 20 km dari wilayah tambang, yaitu di kota Shakiso. Di wilayah ini lah rough Emerald kemudian di sortir untuk kemudian dijual di ibu kota Ethiopia, Addis Ababa.

Ethiopian Emerald sendiri memiliki beberapa ciri yang dapat djadikan acuan dalam membedakannya dengan Emerald dari negara-negara lain, seperti Colombia, Brazil, maupun Zambia. Secara karakter properties, Ethiopian Emerald memiliki ciri yang sangat mirip dengan Emerald-emerald yang ditemukan pada lapisan schist-methamorpic, diantaranya Emerald dari Minas Gerais Brazil dan Zambia. Karena itu, pada pembahasan kali ini, kami akan melampirkan beberapa data temuan kami berdasarkan sample-sample Ethiopian Emerald yang kami miliki, serta membandingkan dengan sample dan data dari Zambian, Brazil, dan Colombian Emerald yang kami miliki.

Dalam pendalaman ini, kami secara khusus akan fokus menjabarkan sample Emerald Ethiopia yang kami miliki;

Pengamatan Visual

FCD30FCC-FEE5-40A1-A5C7-65F7FC6F4DAF.jpeg

Dari pengamatan visual, Emerald Ethiopia memiliki ciri warna yang sangat mirip dengan Colombian Emerald, dimana warna hijaunya cukup terang dan sedikit mengandung unsur ‘yellowish’. Berbeda dengan Zambian atau Brazilian Emerald dimana warna hijau yang dihasilkan umunya lebih tua dan sering kali mengandung unsur ‘bluish’ sedangkan Zambian Emerald identik dengan intense greennya. Tampilan secara eksternal inilah yang sering membuat kita menganggap Ethiopian Emerald sebagai Colombian Emerald. Karena itu, diperlukan analisa mendalam perihal ciri lainnya, yaitu gemological properties termasuk didalamnya ciri inklusi serta kandungan komposisi.

Gemological Properties

Ethiopian Emerald memiliki Refractive Index yang sama dengan Emerald pada umumnya, yaitu berkisar 1.57-1.58. Karena itu metode analisa memisahkan Ethiopian Emerald harus mencakup analisa inklusi, serta kandungan chromium pada Emerald tersebut. Berikut akan kami jelaskan metode analisa yang dapat dijadikan acuan;

  1. Analisa inklusi

Perbedaan utama antara Colombian Emerald dengan Ethiopian Emerald adalah inklusi. Colombian Emerald memiliki inklusi yang sangat khas pola dan bentuknya, bernama  jagged three phase, seperti pada gambar berikut ini;

Colombian 1
Colombian Jagged Three Phase

Tetapi tidak pada Ethiopian Emerald, karena pada Emerald asal Ethiopia ini justru memiliki inklusi yang hampir mirip dengan Zambian maupun Brazilian Emerald, yaitu two phase kotak yang tersebar dalam batu;

A686 - 20190228_144635
Jagged two phase pada Ethiopian Emerald (GRI file)

Sebelum saya jabarkan lebih lanjut, berikut akan saya tampilkan pola phase iklusi pada Brazilian dan Zambian Emerald terlebnih dahulu;

Ethiopian 1
Phase inclusion in Zambian Emerald.
Ethiopian 3
Phase inclusion in Brazilian Emerald

Sekilas terdapat kemiripan pola phase inklusi pada ketiga emerald asal Ethiopia, Zambia dan Brazil ini. Pertanyannya, lantas tanda inklusi apa yang secara spesifik dapat memisahkan Ethiopia dengan dua kawannya ini? Berikut jawabannya;

A688 - 20190228_144718
Elongated Tube Phase
Ethiopian 6
Elongated Tube Phase along with a normal two phase
Ethiopian 4
Elongated Tube Phase

Ethiopian 2

Beradasarkan analisa kami sejauh ini dari sample serta material Ethiopia yang kami miliki dan temui, inklus Elongated Tube Phase dapat menjadi salah satu ciri spesifik yang membedakan Ethiopia dengan Brazil maupun Zambia, karena pada Brazil dan Zambia, two phase yang ada umumnya pendek, seperti contoh gambar yang kami lampirkan sebelumnya.

2. Komposisi kimia

Colombian Emerald terkenal dengan warna hijau yang dominannya berasal dari Chromium, sehingga chromium tersebut dapat mudah terdeteksi hanya dengan menggunakan chelsea filter. Sedangkan Emerald asal Brazil terkenal karena warna hijaunya yang berasal dari vanadium, sehingga tidak memiliki reaksi jika kita lihat menggunakan chelsea filter. Bagaimana dengan Ethiopian Emerald? sama dengan Brazil dan Zambian Emerald, Ethiopian emerald juga tidak bereaksi dengan chelsea filter, yang artinya warna hijau Emerald ini tidak dominan berasal dari Chromium. Berhubung dalam artikel ini fokus kami lebih mengarah terhadap karakter yang dapat membedakan berdasarkan analisis inklusi dan visual ditambah sedikit informasi mengenai dominansi komposisi kimia yang ada, lantas kami tidak akan masuk ke ranah yang lebih scientific dengan mencantumkan analisis Raman, FTIR maupun UV-ViS, karena memang alat tersebut tidak dapat memberikan perbedaan apa-apa terkait pembahasan yang sesuai dengan topik kajian ini.

Kesimpulan

Memisahkan Ethiopian dengan Colombian lebih mudah, dikarenakan perbedaan keduanya yang sangat signifikan berdasarkan Inklusi dan komposisi kimia, sehingga penampilan visualnya yang mirip tidak lagi menjadi hambatan. Justru yang lebih sulit adalah memisahkan Ethiopian Emerald dengan Zambia dan Brazilian, karena dalam beberapa kasus, kami juga menemui Ethiopian Emerald yang tidak terdapat Elongated Tube Phase didalamnya, sehingga jika ini terjadi, maka peroses identifikasi akan sedikit lebih sulit dari seharusnya, namun seiring dengan riset yang terus dilakukan pada banyak institusi dunia, kami harap persoalan ini kedepannya tidak akan lagi menjadi hambatan dalam proses identifikasi, apalagi jika berbicara faktor penampilan vsual, Ethiopian Emerald berbeda jauh dengan karakter warna pada Zambian dan Brazillian, sehingga pengamatan visual juga menjadi faktor yang cukup krusial dalam proses analisa origin pada kasus ini.

Terima kasih sudah membaca, kedepan update persoalan ini akan selalu kami follow up.

written by Adam Harits G.G and Muhammad A.G

 

 

Berbagai sumber;

https://www.gia.edu/gems-gemology/spring-2017-gemnews-new-discovery-emeralds-ethiopia

http://www.pillarandstone.com/articles/EM_Ethiopia_2018_article_GG.pdf

 

Advertisements

PARAIBA TOURMALINE: sejarah dan ciri-cirinya.

ResizedImage600338-67421-1355958199174

Salah satu varian Tourmaline yang sangat digemari dan bernilai sangat tinggi saat ini adalah Paraiba Tourmaline yang merupakan varian dari Species Elbaite Tourmaline. Sebagai informasi saja, bahwa Tourmaline terbagi menjadi tiga kelompok;  Schorl Tourmaline (Dominan Black), Dravite Tourmaline (Dominan Brown) dan yang terakhir Elbaite (Blue, Green, Purple, Red, Colorless dan lain sebagainya). Berbicara mengenai Paraiba Tourmaline, varian yang satu ini berbeda dengan banyaknya varian Elbaite Tourmaline karena disebabkan oleh dua elemen yang tidak ditemukan pada varian Elbaite lainnya. Oleh karena itu. pada artikel kali ini, saya akan coba membahas mengenai Paraiba Tourmaline, dimulai dari sejarah awal mula ditemukannya, warna, element, proses identifikasinya.

Sejarah Paraiba Tourmaline

mapSejatinya, Paraiba merupakan nama suatu negara bagian di Brazil, dimana material ini pertama kali ditemukan pada tahun 1987, tepatnya di Mina da Batalha, dekat São José da
Batalha, Paraíba State, northeastern Brazil dan baru tak lama setelahnya juga ditemukan Tourmaline seperti ini ini di kota lainnya, Rio Grande do Norte di dua lokasi tambang; Mulungu dan Alto do Quintos. Meskipun dua lokasi ini bukan di Paraiba, Tourmaline yang dihasikan juga diebut dengan Paraiba. Karena itulah nama Paraiba digunakan untuk membedakan material Tourmaline ini dari Tourmaline lainnya. Tetapi perlu diingat bahwa supply Paraiba dari dua negara bagian/kota ini cukup terbatas. Dewasa ini, Brazil tidak sendirian sebagai pemasok Paraiba Tourmaline, karena material ini juga ditemukan dari dua negara di Africa; Nigeria dan Mozambique.

Tourmaline asal Nigeria mulai ramai ditemukan sejak tahun 2001, tepatnya dari wilayah tambang Edeko, dekat Ilorin, kota Ibadan, Nigeria. Warna yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari blue, violetish blue, neon blue dan bluish green.Colors_of_Tourmaline_Nigeria

Sedangkan baru pada tahun 2005, Paraiba Tourmaline juga mulai ditemukan di Mozambique, tepatnya berlokasi di Alto Ligonha. Warnanyajuga cukup bervariasi, mulai dari blue, green bahkan sampai violet dan pink.Mozambique-Paraiba-Tourmaline

Properties dan Karakter Paraiba Tourmaline

39-Incolor-Summer-vol-2-2018-single_Page_35_Image_0001

 Saya sering mendapati kawan-kawan yang menganggap bahwa sebutan Paraiba hanya semata-mata disebabkan oleh warna, umumnya apabila warna biru dan hijau, dengan sedikit neon otomatis disebut Paraiba. Benarkah demikian? Tidak. Pertama, Paraiba Tourmaline adalah nama varian untuk Elbaite Tourmaline yang mengandung Copper (Cu) dan Manganese (Mn). Kedua, tidak semua Blue atau Green Tourmaline mengandung dua element ini, ambil contoh Indicolite (Blue) Tourmaline atau varian green Tourmaline lainnya, dimana tidak ditemukannya dua element yang saya sebutkan diatas.

Berbicara mengenai ciri warna pada Paraiba ini cukup bervariasi, dan ternyata tidak hanya sebatas pada neon green maupun blue, karena ternyata ada juga warna pink dan violet yang ditemukan mengandung elemen Copper dan Manganese.

Secara umum, Paraiba Tourmaline memiliki basic properties yang sama dengan varian Elbaite Tourmaline lainnya, Refractive index antara 1.62-1.64, Spesific Gravity berkisar di 3.08 lebih kurangnya, Hardness diangka 7.0-7.5, maupun ciri inklusi semuanya relatif sama. Proses identfikasi guna memisahkan varian Paraiba dengan Elbaite Tourmaline membutuhkan alat portable spectrometer yang dapat membaca dan menganalisa  chromophores atau disebut juga sebagai elemen pemberi warna.

Portable spectrometer yang saya maksud bukan alat kecil spectroscope yang penggunannya sangat terbatas terhadap lemen-elemen tertentu karena hanya bisa membaca dari range 400-700 nanometers, sedangkan portable spectrometer, dalam pengujian yang kami gunakan adalah Uv-ViS NIR dimana alat ini memiliki kemampuan membaca mulai dari range 300-1000 nm. 

IMG_6611

Berikut akan saya tampilkan perbedaan hasil analisa spectrum antara non-Copper Tourmaline dan Copper Bearing Tourmaline;

TourmalineGreen

Ket. gambar: Tourmaline non-copper, tidak ada peak di range 900 nm.

TourmalineBlueCopper

ket gambar; Copper bearing Tourmaline, perhatikan range antara 700-900 nm dengan peak di 900 nm (Cu)

Kesimpulan

Copper bearing Tourmaline atau yang biasa dikenal dengan Paraiba ini bukan ditentukan hanya berdasarkan tampilan warnanya saja, tapi diperlukan analisa dalam memastikan elemen didalamnya, karena sarat untuk menjadi Paraiba adalah terdapatnya kandungan Copper (Cu) dan Manganese (Mn).

Dan perlu diingat bahwa tidak hanya Copper bearing Tourmaline yang berasal dari Brazil saja yang boleh disebut Paraiba, karena selama terdapat dua elemen kunci tersebut, maka dari manapun asalnya tentu akan mendapat gelar Paraiba, terlebih lagi karakter Paraiba dari Brazil dan Nigeria serta Mozambique bisa dibilang akan sangat sulit untuk dibedakan atau dipastikan originnya.

Gimana, kalian punya Paraiba Tourmaline warna apa aja?

Synthetic Pink Sapphire dengan inklusi menyerupai Natural

sintteik wordpress 5
Salam untuk kita semua,
kami ada pembahasan yang menarik, kebetulan sekali, kemarin, Jakarta lab dan Surabaya Lab memeriksa 2 buah pink Sapphire yang karakter dan inklusinya hampir sama, kebetulan lainnya juga, kedua pink Sapphire ini diklaim oleh pemiliknya sebagai batu Natural. Nah yang menarik disini, setelah kami analisa, kami sampai pada tahap kesimpulan bahwa pink Sapphire tersebut adalah Synthetic, 100% tanpa keraguan, bukan Natural seperti yang diklaim oleh pemilik batu.
Bagi kami case ini penting untuk diulas, utamanya agar kita semua mendapat wawasan, bahwa terkadang batu Sintetik pun dapat memiliki pola inklusi seperti Natural, karena itu, analisa secara komprehensif sangat diperlukan. Dalam proses analisa menentukan Natural atau Sintetik, tidak bisa kita hanya berpatokan terhadap satu tanda, tapi diperlukan setidaknya 2 sampai 3 bukti. agar hasil analisa menjadi lebih akurat. Metode analisa yang kami lakukan adalah sebagai berikut, RI, Spectrum test, UV-Vis Test, Analisa Inklusi, serta UV light reaction. Tapi dalam article singkat ini, kami akan fokus menjabarkan dua hal, yaitu pola Inklusi serta UV reaction. Langsung saja kami akan mulai membahas Inklusi yang kami temukan dan pahami dimana letak kesalahan bisa terjadi;
1. Bohemite Needle
Nah, jika ada satu inklusi yang umumnya ditemukan atau diidentifikasi sebagai ciri natural adalah Bohemite Needle, biasanya Bohemite needle sangat sering ditemukan pada Natural Sapphire. Tetapi tidak untuk case yang satu ini,  intersecting bohemite yang kami temukan pada pink Sapphire ini justru membentuk pola yang mencurigakan, pertama, setiap bohemite yang terlihat selalu mengikuti parting plane atau twinning, dan yang kedua, pola antar bohemite sangat rapih dan tertata. Dua hal lantas dapat dijadikan landasan untuk mencari tanda lainnya guna mengkonfirmasi kecurigaan kami.
sintetik wordpress 2
gambar berikutnya juga menunjukan adanya needle yang hanya berorientasi satu arah.
sintetik wordpress 4
Masih sama, ini adalah contoh-contoh needle yang ditemukan pada Synthetic Pink Sapphire
sintetik wordpress 3
2. Gas Bubbles
Pastinya kita semua sudah tidak asing dong dengan istilah gas bubbles, inklusi yang satu ini bisa ditemukan dibanyak contoh kasus, misal pada manmade glass, natural glass, celah crack treatment pada Ruby (lead glass umumnya), serta pada synthetic Corundum. Biasanya nih, gas bubble di synthetic Corundum cukup mudah untuk diidentifikasi, karena seringnya gas bubbles itu ada banyak, dan terkonsentrasi pada titik tertentu mengikuti pola curve color band. Nah, jangan salah, tidak semua gas bubble memiliki pola seperti itu
Nah, ini adalah gb serta wispy veil yang umum dijumpai pada synthetic ruby ataupun synthetic sapphire
Ynthetic Ruby wordrpress
Sedangkan pada kasus tertentu, gas bubbles pada synthetic sapphire tak jarang dijumpai dalam jumlah yang sedikit dan tersebar dibeberapa titik dalam batu, seperti pada kasus pink sapphire yang kami bahas ini, gas bubble kami temukan hanya dua, dan itupun cukup kecil, sehingga hanya satu yang dapat kami ambil gambarnya. Tetapi, gas bubbles seperti ini sangat riskan terjadi salah identifikasi, bagaimana jika ternyata inklusi ini adalah minute crystal bukan gas bubbles? Untuk membuktikan apakah ini gas bubble atau tidak, kita bisa menggunakan fiber optic light, dan menembak langsung kearah inklusi, apabila crystal, maka cahaya dari fiber optic tidak serta merta akan menembus inklusi tersebut, dan apabila gas bubbles, cahaya akan tembus begitu saja. Selain itu, setidaknya kita bisa memperhatikan bentuk dari inklusi tersebut, gas bubbles akan berbentuk bulat hampir sempurna dan biasanya terlihat gelembung didalam gelembung udara. Mohon maaf difoto kami tidak berhasil menunjukan ciri ini karena gas bubbles pada case kali ini terlampau kecil dan terdapat pada sudut yang menyulitkan kami mendapat gambar dengan sempurna.

Gb for wordpress

 

Setelah berhasil mengkonfirmasi dua pola Inklusi diatas, kami juga melihat konsistensi batu tersebut terhadap reaksi lampu UV. Sedikit informasi, Burmese Ruby memiliki reaksi UV yang terkuat diantara seluruh Ruby dikarekanakn kandungan Chromiumnya yang tertinggi diantara Ruby-Ruby dari negara manapun, dan pada umumnya, Synthetic Ruby atau Synthetic Pink Sapphire akan menyala melebihi Burmese Ruby, hal ini dapat dijadikan acuan tambahan guna memperkuat hasil analisa yang telah kami temukan sebelumnya.  Dalam foto dibawah ini, Batu Sebelah kanan adalah Burmese Ruby, yang biasanya menyala terang serta memiliki hint ke orange-an dan yang sebelah kiri adalah batu Synthetic Pink Sapphire yang menjadi pembahasan kita kali ini. Synthetic Pink Sapphire menyala terang secara sempurna, bahkan sampai melebihi Burmese Ruby.

d2bdcba7-0018-450a-8dc0-6bdcbca2dacd
Dari hasil analisa ini, serta beberapa metode lain seperti Uv-Vis, kami berhasil menyimpulkan bahwa Pink Sapphire yang kami lakukan pemeriksaan ini adalah Synthetic yang tidak biasa dan bisa membingungkan. Karena itu, diperlukan analisa secara komprehensif dalam observasi yang dilakukan.

Terima Kasih.

 

Written by Adam Harits, G.G, supported data by Ming Ma, G.G dan Muhammad, A.G.

Diamond Tester, apa sih fungsi dan cara kerjanya?

d6fd927c-3803-46f2-94fb-70a8362c8498_1.f85dbf816582938429e4f02bb3b26a30

Mungkin jika ada satu alat yang sangat populer, dan diketahui oleh banyak orang, dari yang awam sampai yang pengalaman di dunia batu permata tak lain adalah Diamond Tester. Karena itu juga, alat ini sering dipahami dengan cara yang salah. Banyak asumsi yang beredar, apabila angkanya naik, maka batu yang diuji adalah batu Natural, dan sebaliknya apabila angkanya tidak naik, batu yang diuji dianggap sintetis atau masakan atau angka-angka yang tertera tersebut mengindikasikan kekerasan (hardness) batu. Well, anggapan diatas keliru.

Dalam pembahasan kali ini, saya akan sedikit menjelaskan tentang Diamond Tester, serta prinsip kerja alat ini sehingga saya harapkan setelah membaca artikel ini, kita semua tidak lagi keliru memahami sang selebritis ini.

Apa sih Diamond Tester?

Diamond Tester adalah alat portable yang dapat menguji dengan memberikan indikasi apakah batu tersebut Diamond atau bukan. Sesederhana itu, makanya diberi Diamond Tester, bukan Gemstones Tester karena memang fungsi utamanya hanya untuk Diamond, meskipun pada perkembangannya, alat ini juga dialihfungsikan untuk menguji batu-batu lainnya.

Prinsip Kerja Diamond Tester

Masing-masing batu permata menyalurkan panas yang berbeda satu sama lain, dan hal ini yang menjadi dasar prinsip kerja Diamond Tester. Dalam dunia gemologi, kami terbiasa mengenali istilah batu permata Natural akan terasa dingin jika dipegang, sedangkan batu manmade seperti kaca, akan hangat jika dipegang. Apa sains dibalik ini? Pada dasarnya, jari kita bekerja sebagai sumber panas yang akan meningkatkan temperatur suatu permukaan material, dalam contoh kasus pembasahan ini, tentunya adalah permukaan batu permata. Ukuran cepat atau lambatnya perubahan temperatur permukaan suatu batu ini disebut dengan Thermal Inertia, nah semakin tinggi Thermal Inertia suatu batu, maka jari kita tidak bisa meningkatkan temperature permukaan batu tersebut dengan cepat, sehingga jari kita akan tetap terasa dingin, contohnya adalah Diamond. Begitu juga sebaliknya, apabila suatu batu, dalam hal ini kita ambil contoh Kaca, yang mana rendah Thermal Inertia-nya, maka sumber panas dari jari kita akan merasakan hangat dari permukaan kaca tersebut. Ini lah yang menjadi prinsip dasar dari Diamond Tester, mengukur Thermal Inertia pada setiap batu.

71ClMjTPJFL._SX425_

Lalu jika prinsip kerjanya demikian, kenapa kita menemukan angka 1-8 pada Diamond Tester portable ini? Bukan kah itu mengindikasikan suatu hardness?

Menurut hemat saya, angka tersebut hanya sebatas gambaran tinggi atau rendahnya tingkat thermal inertia pada suatu batu yang akan diuji. Semisal batu yang tidak begitu cakap dalam menghantarkan panas (low thermal inertia), Kaca misalnya maka akan sangat lambat naiknya, dan sebaliknya, Diamond, high thermal inertia, meski ditekan dengan penghantar yang hangat, akan naik dengan cepat.

Angka tersebut berfungsi sebagai pembantu untuk mengklasifikasikan saja dan sampai saat ini saya asumsikan bahwa semakin tinggi high thermal inertia pada suatu batu maka semakin tinggi juga mohs scale hardness batu tersebut*.

Jadi, pemahaman yang mengatakan apabila angkanya naik, maka batu yg diuji adalah Natural, dan sebaliknya apabila angkanya tidak naik, maka batu yang diuji dinyatakan masakan/sintetis atau sebagian lagi yang  beranggapan bahwa indikator angka tersebut adalah cerminan dari hardness pada batu adalah keliru, dan sudah terjawab dari penjabaran diatas . Sekali lagi, Indikator angka yang tertera tidak ada kaitannya dengan batu Natural atau masakan, ataupun hardness batu, makanya kalo kita ambil contoh, misalnya, Natural Quartz, apabila diuji dengan alat ini, tidak akan naik full sebab Natural Quartz tidak memiliki thermal Inertia setinggi Diamond misalnya. Sebaliknya, Synthetic Moissanite (kekerasan 9.5) adalah batu masakan dengan kekerasan hampir sama dengan Diamond , apabila diuji akan naik sama dengan Diamond. Kenapa demikian? Karena sekali lagi, prinsip kerja alat ini adalah membaca tingkat Thermal Inertia pada batu dan Synthetic Moissanite dan Diamond memiliki tingkat Thermal Inertia yang hampir sama.

Jadi, apakah Diamond Tester dapat diandalkan?

Ya dan Tidak.

Ya, jika anda hanya ingin sekedar mengetahui apakah batu yang sedang diuji tersebut adalah Diamond atau bukan, maka alat ini dapat diandalkan. Meskipun ini juga masih terbatas, karena kita sudah tahu sekarang, Synthetic Moissanite ataupun lab grown Diamond/CVD, juga akan bereaksi sama, tapi setidaknya sudah meminimalisir kemungkinan-kemungkinan lainnya, sehingga setelahnya kita dapat melanjutkan ke proses analisa lebih lanjut.

Tidak, apabila anda ingin memisahkan jenis-batu, atau ingin mengetahui apakah batu tersebut natural atau bukan.

Saya harapkan dengan membaca artikel ini, kita semua mendapat pengetahuan tambahan dan pemahaman yang komprehensif mengenai Diamond Tester ini.

Diamond tester bukan lah the magic tools everyone once thought, but indeed its essential for a spesific purpose.

 

 

*Asumsi yang saya jabarkan pada bagian tersebut masih harus dikaji lebih dalam karena minimnya referensi yang ada, jadi asumsi perihal high thermal inertia = memiliki mohs scale hardness yang tinggi juga bisa salah.

 

 

Adam Harits, GG

GRI Gemologist

 

 

 

Legenda Batu Sintetik

DSC_3075

Belum lama ini, saya ngobrol-ngobrol santai dengan salah satu pedagang batu yang sarat pengalaman di Pasar Batu Rawabening (JGC), Pak Fafan. Beliau katakan pada saya bagaimana masyarakat awam yang datang untuk beli batu sering kali minim pengetahuan dan informasi, akibatnya pada banyak kesempatan, alih-alih mendapatkan batu yang sesuai, mereka justru tertipu. Pak Fafan cukup khawatir akan situasi dan kondisi seperti ini. Karena itu beliau  menyarankan saya untuk mengulas beberapa batu sintetik yang cukup populer dan sering menjadi senjata bagi para oknum yang gemar memanfaatkan ketidak tahuan masyarakat awam ini.

Batu asli atau palsu sih?

Anda tentunya familiar dengan batu Ruby ataupun Sapphire, kan? Kedua batu ini sangat populer karena warna, kelangkaan serta stabilitas nilai yang mereka punya, sehingga kedua varian dari Corundum ini menjadi batu yang sangat diminati masyarakat. Coba deh, jika kalian sebut Chrysoberyl, mungkin masyarakat yang awam di dunia batu masih ada yang tidak tahu, tapi jika anda sebut Ruby ataupun Sapphire, hampir semuanya pasti tahu, atau setidaknya pernah dengar. Permintaan terhadap Ruby dan Sapphire ini sangat tinggi, dan cenderung tidak sebanding dengan ketersediaannya, yang akhirnya menyebabkan Ruby dan Sapphire berkualitas semakin hari semakin tinggi harganya. Akibatnya,  pelaku pasar menjadi sangat kreatif, mereka akhirnya memutar otak mencari cara bagaimana agar Ruby dan Sapphire kualitas rendah juga diminati hingga mencari alternatif pengganti yang harganya lebih terjangkau. Hasilnya adalah berkembangnya industri treatment batu permata yang sangat pesat guna mempercantik batu Ruby dan Sapphire berkualitas rendah agar juga dapat diperjual belikan serta tumbuhnya industri Sintetik Corundum yang cukup besar. Pada pembahasan kali ini saya tidak akan membahas industri treatment, karena kurang relevan dengan topik yang sedang dibahas. Justru saya akan mengulas secara singkat perihal Sintetik Corundum.

Saudara kembar yang diciptakan melalui serangkaian proses didalam laboratorium ini muncul sebagai alternatif  yang lebih terjangkau harganya dibanding natural Ruby dan Sapphire. Permasalahannya, alternatif batu natural ini sering kali disalah artikan sebagai batu natural. Pertanyaannya, kenapa sampai terjadi seperti itu? Jika kita urutkan rangkaiannya, supplier besar batu sintetik ini tentu menjual sebagai sintetik, sampailah batu ini di pasar Indonesia. Disini lah masalah itu dimulai, karena tahukah anda bahwa batu-batu sintetik ini ternyata tidak serta merta dijual dengan sebutan sintetik Ruby ataupun sintetik Sapphire? Hampir sebagian besar pelaku pasar menyebutnya dengan nama-nama yang sudah melegenda, seperti American Star, Merah Siam dan King Sapphire. Karena itu, saya akan coba mengulas dengan singkat tentang ketiga batu legenda tersebut.

American Star

DSC_3065

American Star, hmm keren. Saya pribadi suka dengan istilah ini, meski saya bingung maksudnya apa? Kenapa musti American? Kenapa gak sekalian Burmese Star? Kan ruby terbaik justru berasal dari Burma. Ntah lah, mungkin menggunakan nama Amerika ini tanpa sadar sangat menjual, hehe. Jadi, apa sih American Star itu? Batu ini sejatinya adalah Sintetik Star Ruby. Fenomena Starnya bukan berasal dari needle yang pada umumnya ditemukan apda batu natural, tetapi dari serangkaian proses yang memang dilakukan untuk menghasilkan fenomena selayaknya star.

 

Merah Siam

DSC_3060

Asal mula nama Merah Siam ini sebetulnya berasal dari kata Siam. Siam adalah nama lain dari negara Thailand. Dari apa yang saya ketahui, negara Thailand memang merupakan penghasil batu sintetik terbesar di dunia selain Tiongkok, dan karena biasanya pemain batu di Indonesia memasukan barang dari Thailand, pada akhirnya mereka menyebut batu sintetik Ruby dari Thailand sebagai Merah Siam. Jadi sudah jelas bahwa batu Merah Siam ini adalah batu Sintetik yang namanya sudah sangat melegenda.

King Sapphire

DSC_3064

Nah, bagian ini yang menurut saya cukup menarik. Jadi ketika diskusi dengan pak Fafan, beliau bilang ke saya, kalau baru-baru ini banyak King Sapphire baru masuk dan dari Thailand,  Menariknya, menurut pak Fafan, King Sapphire ini lebih berat dan padat dari King Sapphire yang sudah banyak di Indonesia dari dulu. Ada yang aneh dengan hal ini. Kok sama-sama King Sapphire bisa beda-beda berat kepadatannya? Harusnya ya sama. Pikiran saya tentu King Sapphire ini sama dengan saudara-saudara lainnya, si Merah Siem dan si American Star, yaitu ya masih keluarga sintetik Corundum. Saya cukup kaget ketika memeriksa sample yang diberikan pak Fafan, ternyata King Sapphire ini adalah Cubic Zirconia! Jelas saja secara berat jauh lebih berat dan terasa lebih padat. Cubic Zirconia memiliki berat jenis ampai 6.00 sedangkan Sapphire hanya 4.00. Jadi dapat saya ambil kesimpulan bahwa mereka berusaha mengimitasi blue Sapphire saat ini bukan hanya dengan bahan sintetik, namun juga dengan bahan lain, dan dalam kasus ini adalah Cubic Zirconia.

 

Saya harap artikel singkat ini dapat bermanfaat dan dapat membantu masyarakat umum guna memahami istilah-istilah yang rawan disalah artikan.

 

Terima kasih.

ALERT: New opal treatment; Dyed and colorless resin by Adam Harits, G.G (GRILab)

Recently, our reliable friends have sent us ten samples consisting of Indonesian Opal material before and after heavily treated. Normally, Opals are smoke and sugar treated to darken the body color. In this case, its quite different. This article will briefly explain the characteristic of those opal, before and after treatment, thus helping us understanding better on how to identify such treated opal. Please note that to be able to identify it, at least a standard gemological microscope is compulsory.

The aim of this treatments on these Opal is to completely change the body color from white to black and then improving its durability while at the same time its appearance by covering it with thick colorless resin.

Read more from PDF;

ALERT: new opal treatment; Dyed and colorless resin english version

Versi bahasa Indonesia:

ALERT: new opal treatment; dyed and colorless resin bahasa version

 

Perbedaan dimensi pada batu mulia, sejauh mana batasannya?

Melihat banyaknya kasus akhir-akhir ini, dimana hasil pemeriksaan dari satu lab dibandingkan dengan lab lainnya, saya tertarik untuk membahas sedikit saja tentang dimensi pada batu mulia.
Biasanya, masyarakat umum akan membahas setiap sisi perbedaan yang terdapat dalam laporan tersebut. Mulai dari perbedaan jenis batu yg tercantum (tentunya :p), berat, cutting, shape, foto, warna, comment, origin, dan bahkan yang paling luar biasa perbedaan dimensi. Nah pertanyaannya, sejauh mana perbedaan dimensi dapat dimaklumi? 
Begini, dimensi tentu penting dalam menentukan apakah batunya sama atau tidak. Tapi harap di garis bawahi, ini penting, kita berbicara dimensi dengan skala ukuran (mm). Bukan centimeter (cm). 
Kedua, yang lebih dahsyatnya lagi, kita berbicara dua angka dibelakang koma/titik. Betul ya? Karena biasanya perbedaan terdapat di dua angka belakang koma/titik

Saya beri contoh:
Lab A: 8.54 x 5.27 x 2.90 (mm)

Lab B: 8.50 x 5.23 x 2.86 (mm)

Lab C: 8.57 x 5.26 x 2.93 (mm)

“Waahh dimensinya beda! Batunya beda nih”
“Waduh parah ni lab-lab, masa dimensinya gak ada yg sama, gimana sih??”

“Wah ini gak jelas jadi batunya beda apa labnya yg gak bener sih?”

Biasanya begini respon-respon yang sering sekali saya temui. Halo om tante bapak ibu mas mbak, dua angka dibelakang koma itu perbedaanya mungkin baru keliatan klo kita pake kaca pembesar! Jadi gak mungkin dimensi akan sama persis. Saya ulangi, tidak mungkin. 
Yang diukur ini mm sekali lg saya tekankan. Kita ganti alat ukur dimensi kita yang lama dengan yang baru aja pasti juga dua angka dibelakang koma gak akan ada yang sama. Gak percaya? Coba beli alat ukur dimensi, beli 2 aja. Lalu test sendiri. Jadi kalo kasus kayak diatas, itu bukan human error, tapi memang begitu adanya. Batunya sama? Ya sama lah om. Jadi klo ada Lab gak terima complain dan berkilah bahwa dimensinya beda tuh, batunya paling beda, itu bullshit. Untuk kasus kayak contoh diatas loh ya. 

Kalo kasusnya begini baru beda cerita:

Lab A: 7.55 x 3.65 x 2.22 (mm)
Lab B: 6.12 x 3.33 x 2.75 (mm)

Ini baru ada dua kemungkinan, pertama, batunya beda atau kedua, yang ngukur dimensinya sambil ngigo. 

Mudah-mudahan pada paham ya. Ayo lah dewasa dalam mengkritisi sesuatu, dan pihak yg di kritik juga harus jujur. 

OBRAL INTEGRITAS: Terlena dengan budaya membodohi sesama


Gila juga liat “lab” yg asal sebut origin. Dari sekian banyak penulisan Origin yg asal-asalan, paling dahsyat itu ketika Moldavite ditulis Origin Ceko. Ini kan levelnya sudah sampai tahap mengkhawatirkan. Coba dong berikutnya tulis juga origin ‘Gemologist’nya hehehe. 

Saya selalu bilang ke customer yang nanya kenapa batu a, batu b, batu c, gak bisa dicek originnya? Saya selalu jawab, anda mau saya copy origin dari google terus cantumkan di sertifikat? Bisa aja gampang itu, tinggal copy, masuk kantong juga lebih kok. Enak disaya tp rugi di anda. Bayar mahal-mahal eh dibohongin. Modal bohonginnya cuma langganan internet perbulan pula supaya bisa akses mbah google. Huhu. Sedih gak, sih? 
Wahai para praktisi “lab” kembali lah ke jalan yg lurus. Jangan terus-terusan gadaikan integritas dan kredibilitas kalian demi keuntungan semata. Its not worth it. Berikan edukasi yg bermanfaat, bukan terus-terusan terlena dengan budaya membodohi sesama. 
Berbenah lah sebelum terlambat. 

Sekian dan terima kasih.

Adam Harits, G.G

Keterangan:

*Lab tanda kutip. Berarti saya tidak anggap praktisi ini sebagai lab. 
*Status ini tidak dibuat untuk menyinggung Lab yg dibangun penuh tanggung jawab seperti lab kawan-kawan saya yg tergabung dalam wadah diskusi gemologist. Dan tidak alasan juga bagi kawan-kawan saya untuk tersinggung karena celotehan ini juga mungkin sudah lama menari-nari dipikiran mereka. Saya gak perlu sebut satu-satu ya. 
*saya tidak membahas kesalahan lab, karena sehebat apapun akademisi didalamnya, pasti lab pernah salah. Lab terbaik dan terbesar didunia yang menjadi kiblat dunia batu permata pun pernah melakukan kesalahan. Apalagi kita yg masih terus belajar meningkatkan kualitas agar menjadi yang terbaik. Yang saya bicarakan disini konteksnya adalah pembohongan dan pembodohan publik. 

Pseudo Padparadscha

Pseudo Padparadscha

By Adam Harits, G.G and Ser Yuan Tan, G.G and Geologist.

Baru-baru ini kami menerima batu permata Sapphire, dengan perpaduan warna orangy-pink yang cukup baik. Bagi yang belum mengetahui, perpaduan orangy-pink pada batu Sapphire dapat di klasifikasikan sebagai Padparadscha. Selain perpaduan orangy-pink (dominan pink dengan campuran orange), warna pinkish-orange (dominan orange dengan campuran pink) dan orange-pink/pink-orange (perpaduan sempurna) juga dapat diklasifikasikan sebagai padparadscha. Ada dua batu permata Sapphire yang masuk ke kami hari ini, satu terlihat orangy-pink dan satu lagi terlihat orange & pink.

Dari pengamatan mata biasa, jelas sekali salah satu dari dua batu tersebut adalah padparadscha. Yang menarik perhatian adalah ketika kami melakukan analisa microscopic, ternyata warna orange yang terlihat secara visual tanpa bantuan loupe/microscope ternyata berasal dari inklusi.

Secara umum warna terjadi dikarenakan adanya penyerapan panjang gelombang cahaya dari trace elements pada suatu benda baru kemudian memantulkan panjang gelombang yang dapat terserap benda tersebut sehingga menghasilkansuatu warna tertentu. Begitu juga warna yang kita lihat pada batu permata. Sedangkan yang kami dapati pada pembahasan ini adalah adanya distorsi warna yang disebabkan inklusi yang ditunjang dengan cutting batu permata tersebut. Facet pada cutting suatu batu permata juga berperan besar dalam memantulkan gelombang cahaya ke pengelihatan kita.

Inklusi berwarna kuning/orange yang kami maksud disini adalah iron stain. Iron stain sendiri biasa ditemukan pada Corundum yang berasal dari wilayah magmatic, seperti Madagascar, dan juga wilayah Metamorphic seperti Sri lanka. Jika kita perhatikan pada foto dibawah ini, dapat terlihat bahwa warna pada batu tersebut hanya pink saja. Seluruh komponen orange murni berasal dari iron stain.

 

Inklusi iron Stain2
pembesaran 40X
Inklusi iron Stain3
iron stain
Inklusi Iron Stain di crack
iron stain yang cukup besar

Inklusi iron Stain

 

Dalam prosesnya, Hujan yang turun membasahi tanah masuk kedalam permukaan bumi dan membersihkan iron dari sedimen, dimana ketika terjadi kontak dengan mineral Corundum, air yang sudah mengandung iron tersebut mengisi celah-celah/crack pada Corundum. Air dalam celah-celah pada Corundum biasanya akan menguap, sehingga meninggalkan iron tersebut yang pada akhirnya menyatu dengan crack. Benar bahwasanya Iron adalah suatu element dan merupakan salah satu element yang dapat menyebabkan suatu warna, tetapi hal itu hanya bisa terjadi apabila iron berdiri sendiri. Sedangkan dalam pembahasan kali ini, element iron sudah berubah menjadi suatu inklusi solid yang terkontaminasi dengan celah-celah/crack pada batu permata Corundum.

Ini lah yang kami sebut sebagai “pseudo” padparadscha. Tentu istilah ini tidak kami cantumkan dalam laporan kami, namun hanya istilah yang kami gunakan agar mudah bagi kita semua memahami perbedaannya, mana padparadscha sungguhan dan mana yang bukan.

Kami harap informasi singkat ini dapat bermanfaat.

 

 

Terima kasih

Adam & Yuan

Photo by: Mingma Sherpa, D.G.I., G.G.

 

References:

http://gemologyproject.com/wiki/index.php?title=Causes_of_color#Electron_color_centers

https://www.itp.uni-hannover.de/~zawischa/ITP/origins.html

https://www.gemsociety.org/article/gem-formation/

Photo Atlas, Volume. 3

 

LATEST FINDINGS: “MACAN PUTIH” MINERAL REPORTED

IMG_4058

Belum lama ini, kami menerima beberapa sample specimen dari pegiat batu mulia Nusantara, bapak Muhammad Yusuf Alfarisi. Sample tersebut berasal dari Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kabupaten Muna, Kecamatan Maligano, Desa Lapole. Beberapa informasi yang kami dapat perihal  mineral ini dikenal dengan sebutan “Macan Putih”, sedangkan secara umum, masyarakat menyebutnya dengan “Pirus Putih” (White Turquoise). Di Amerika, tepatnya Nevada, ada salah satu tambang yang menghasilkan mineral sejenis dengan yang ditemukan di Indonesia belum lama ini. Batu tersebut mereka sebut sebagai “White Buffalo”. Meski secara penampilan terlihat ada beberapa perbedaan dengan batu “Macan Putih” yang ditemukan di Indonesia, nyatanya propertis “Macan Putih” dengan “White Buffalo” sama.

Selengkapnya silahkan klik link PDF dibawah:

Macan Putih PDF