Synthetic Pink Sapphire dengan inklusi menyerupai Natural

sintteik wordpress 5
Salam untuk kita semua,
kami ada pembahasan yang menarik, kebetulan sekali, kemarin, Jakarta lab dan Surabaya Lab memeriksa 2 buah pink Sapphire yang karakter dan inklusinya hampir sama, kebetulan lainnya juga, kedua pink Sapphire ini diklaim oleh pemiliknya sebagai batu Natural. Nah yang menarik disini, setelah kami analisa, kami sampai pada tahap kesimpulan bahwa pink Sapphire tersebut adalah Synthetic, 100% tanpa keraguan, bukan Natural seperti yang diklaim oleh pemilik batu.
Bagi kami case ini penting untuk diulas, utamanya agar kita semua mendapat wawasan, bahwa terkadang batu Sintetik pun dapat memiliki pola inklusi seperti Natural, karena itu, analisa secara komprehensif sangat diperlukan. Dalam proses analisa menentukan Natural atau Sintetik, tidak bisa kita hanya berpatokan terhadap satu tanda, tapi diperlukan setidaknya 2 sampai 3 bukti. agar hasil analisa menjadi lebih akurat. Metode analisa yang kami lakukan adalah sebagai berikut, RI, Spectrum test, UV-Vis Test, Analisa Inklusi, serta UV light reaction. Tapi dalam article singkat ini, kami akan fokus menjabarkan dua hal, yaitu pola Inklusi serta UV reaction. Langsung saja kami akan mulai membahas Inklusi yang kami temukan dan pahami dimana letak kesalahan bisa terjadi;
1. Bohemite Needle
Nah, jika ada satu inklusi yang umumnya ditemukan atau diidentifikasi sebagai ciri natural adalah Bohemite Needle, biasanya Bohemite needle sangat sering ditemukan pada Natural Sapphire. Tetapi tidak untuk case yang satu ini,  intersecting bohemite yang kami temukan pada pink Sapphire ini justru membentuk pola yang mencurigakan, pertama, setiap bohemite yang terlihat selalu mengikuti parting plane atau twinning, dan yang kedua, pola antar bohemite sangat rapih dan tertata. Dua hal lantas dapat dijadikan landasan untuk mencari tanda lainnya guna mengkonfirmasi kecurigaan kami.
sintetik wordpress 2
gambar berikutnya juga menunjukan adanya needle yang hanya berorientasi satu arah.
sintetik wordpress 4
Masih sama, ini adalah contoh-contoh needle yang ditemukan pada Synthetic Pink Sapphire
sintetik wordpress 3
2. Gas Bubbles
Pastinya kita semua sudah tidak asing dong dengan istilah gas bubbles, inklusi yang satu ini bisa ditemukan dibanyak contoh kasus, misal pada manmade glass, natural glass, celah crack treatment pada Ruby (lead glass umumnya), serta pada synthetic Corundum. Biasanya nih, gas bubble di synthetic Corundum cukup mudah untuk diidentifikasi, karena seringnya gas bubbles itu ada banyak, dan terkonsentrasi pada titik tertentu mengikuti pola curve color band. Nah, jangan salah, tidak semua gas bubble memiliki pola seperti itu
Nah, ini adalah gb serta wispy veil yang umum dijumpai pada synthetic ruby ataupun synthetic sapphire
Ynthetic Ruby wordrpress
Sedangkan pada kasus tertentu, gas bubbles pada synthetic sapphire tak jarang dijumpai dalam jumlah yang sedikit dan tersebar dibeberapa titik dalam batu, seperti pada kasus pink sapphire yang kami bahas ini, gas bubble kami temukan hanya dua, dan itupun cukup kecil, sehingga hanya satu yang dapat kami ambil gambarnya. Tetapi, gas bubbles seperti ini sangat riskan terjadi salah identifikasi, bagaimana jika ternyata inklusi ini adalah minute crystal bukan gas bubbles? Untuk membuktikan apakah ini gas bubble atau tidak, kita bisa menggunakan fiber optic light, dan menembak langsung kearah inklusi, apabila crystal, maka cahaya dari fiber optic tidak serta merta akan menembus inklusi tersebut, dan apabila gas bubbles, cahaya akan tembus begitu saja. Selain itu, setidaknya kita bisa memperhatikan bentuk dari inklusi tersebut, gas bubbles akan berbentuk bulat hampir sempurna dan biasanya terlihat gelembung didalam gelembung udara. Mohon maaf difoto kami tidak berhasil menunjukan ciri ini karena gas bubbles pada case kali ini terlampau kecil dan terdapat pada sudut yang menyulitkan kami mendapat gambar dengan sempurna.

Gb for wordpress

 

Setelah berhasil mengkonfirmasi dua pola Inklusi diatas, kami juga melihat konsistensi batu tersebut terhadap reaksi lampu UV. Sedikit informasi, Burmese Ruby memiliki reaksi UV yang terkuat diantara seluruh Ruby dikarekanakn kandungan Chromiumnya yang tertinggi diantara Ruby-Ruby dari negara manapun, dan pada umumnya, Synthetic Ruby atau Synthetic Pink Sapphire akan menyala melebihi Burmese Ruby, hal ini dapat dijadikan acuan tambahan guna memperkuat hasil analisa yang telah kami temukan sebelumnya.  Dalam foto dibawah ini, Batu Sebelah kanan adalah Burmese Ruby, yang biasanya menyala terang serta memiliki hint ke orange-an dan yang sebelah kiri adalah batu Synthetic Pink Sapphire yang menjadi pembahasan kita kali ini. Synthetic Pink Sapphire menyala terang secara sempurna, bahkan sampai melebihi Burmese Ruby.

d2bdcba7-0018-450a-8dc0-6bdcbca2dacd
Dari hasil analisa ini, serta beberapa metode lain seperti Uv-Vis, kami berhasil menyimpulkan bahwa Pink Sapphire yang kami lakukan pemeriksaan ini adalah Synthetic yang tidak biasa dan bisa membingungkan. Karena itu, diperlukan analisa secara komprehensif dalam observasi yang dilakukan.

Terima Kasih.

 

Written by Adam Harits, G.G, supported data by Ming Ma, G.G dan Muhammad, A.G.

Advertisements

Diamond Tester, apa sih fungsi dan cara kerjanya?

d6fd927c-3803-46f2-94fb-70a8362c8498_1.f85dbf816582938429e4f02bb3b26a30

Mungkin jika ada satu alat yang sangat populer, dan diketahui oleh banyak orang, dari yang awam sampai yang pengalaman di dunia batu permata tak lain adalah Diamond Tester. Karena itu juga, alat ini sering dipahami dengan cara yang salah. Banyak asumsi yang beredar, apabila angkanya naik, maka batu yang diuji adalah batu Natural, dan sebaliknya apabila angkanya tidak naik, batu yang diuji dianggap sintetis atau masakan atau angka-angka yang tertera tersebut mengindikasikan kekerasan (hardness) batu. Well, anggapan diatas keliru.

Dalam pembahasan kali ini, saya akan sedikit menjelaskan tentang Diamond Tester, serta prinsip kerja alat ini sehingga saya harapkan setelah membaca artikel ini, kita semua tidak lagi keliru memahami sang selebritis ini.

Apa sih Diamond Tester?

Diamond Tester adalah alat portable yang dapat menguji dengan memberikan indikasi apakah batu tersebut Diamond atau bukan. Sesederhana itu, makanya diberi Diamond Tester, bukan Gemstones Tester karena memang fungsi utamanya hanya untuk Diamond, meskipun pada perkembangannya, alat ini juga dialihfungsikan untuk menguji batu-batu lainnya.

Prinsip Kerja Diamond Tester

Masing-masing batu permata menyalurkan panas yang berbeda satu sama lain, dan hal ini yang menjadi dasar prinsip kerja Diamond Tester. Dalam dunia gemologi, kami terbiasa mengenali istilah batu permata Natural akan terasa dingin jika dipegang, sedangkan batu manmade seperti kaca, akan hangat jika dipegang. Apa sains dibalik ini? Pada dasarnya, jari kita bekerja sebagai sumber panas yang akan meningkatkan temperatur suatu permukaan material, dalam contoh kasus pembasahan ini, tentunya adalah permukaan batu permata. Ukuran cepat atau lambatnya perubahan temperatur permukaan suatu batu ini disebut dengan Thermal Inertia, nah semakin tinggi Thermal Inertia suatu batu, maka jari kita tidak bisa meningkatkan temperature permukaan batu tersebut dengan cepat, sehingga jari kita akan tetap terasa dingin, contohnya adalah Diamond. Begitu juga sebaliknya, apabila suatu batu, dalam hal ini kita ambil contoh Kaca, yang mana rendah Thermal Inertia-nya, maka sumber panas dari jari kita akan merasakan hangat dari permukaan kaca tersebut. Ini lah yang menjadi prinsip dasar dari Diamond Tester, mengukur Thermal Inertia pada setiap batu.

71ClMjTPJFL._SX425_

Lalu jika prinsip kerjanya demikian, kenapa kita menemukan angka 1-8 pada Diamond Tester portable ini? Bukan kah itu mengindikasikan suatu hardness?

Menurut hemat saya, angka tersebut hanya sebatas gambaran tinggi atau rendahnya tingkat thermal inertia pada suatu batu yang akan diuji. Semisal batu yang tidak begitu cakap dalam menghantarkan panas (low thermal inertia), Kaca misalnya maka akan sangat lambat naiknya, dan sebaliknya, Diamond, high thermal inertia, meski ditekan dengan penghantar yang hangat, akan naik dengan cepat.

Angka tersebut berfungsi sebagai pembantu untuk mengklasifikasikan saja dan sampai saat ini saya asumsikan bahwa semakin tinggi high thermal inertia pada suatu batu maka semakin tinggi juga mohs scale hardness batu tersebut*.

Jadi, pemahaman yang mengatakan apabila angkanya naik, maka batu yg diuji adalah Natural, dan sebaliknya apabila angkanya tidak naik, maka batu yang diuji dinyatakan masakan/sintetis atau sebagian lagi yang  beranggapan bahwa indikator angka tersebut adalah cerminan dari hardness pada batu adalah keliru, dan sudah terjawab dari penjabaran diatas . Sekali lagi, Indikator angka yang tertera tidak ada kaitannya dengan batu Natural atau masakan, ataupun hardness batu, makanya kalo kita ambil contoh, misalnya, Natural Quartz, apabila diuji dengan alat ini, tidak akan naik full sebab Natural Quartz tidak memiliki thermal Inertia setinggi Diamond misalnya. Sebaliknya, Synthetic Moissanite (kekerasan 9.5) adalah batu masakan dengan kekerasan hampir sama dengan Diamond , apabila diuji akan naik sama dengan Diamond. Kenapa demikian? Karena sekali lagi, prinsip kerja alat ini adalah membaca tingkat Thermal Inertia pada batu dan Synthetic Moissanite dan Diamond memiliki tingkat Thermal Inertia yang hampir sama.

Jadi, apakah Diamond Tester dapat diandalkan?

Ya dan Tidak.

Ya, jika anda hanya ingin sekedar mengetahui apakah batu yang sedang diuji tersebut adalah Diamond atau bukan, maka alat ini dapat diandalkan. Meskipun ini juga masih terbatas, karena kita sudah tahu sekarang, Synthetic Moissanite ataupun lab grown Diamond/CVD, juga akan bereaksi sama, tapi setidaknya sudah meminimalisir kemungkinan-kemungkinan lainnya, sehingga setelahnya kita dapat melanjutkan ke proses analisa lebih lanjut.

Tidak, apabila anda ingin memisahkan jenis-batu, atau ingin mengetahui apakah batu tersebut natural atau bukan.

Saya harapkan dengan membaca artikel ini, kita semua mendapat pengetahuan tambahan dan pemahaman yang komprehensif mengenai Diamond Tester ini.

Diamond tester bukan lah the magic tools everyone once thought, but indeed its essential for a spesific purpose.

 

 

*Asumsi yang saya jabarkan pada bagian tersebut masih harus dikaji lebih dalam karena minimnya referensi yang ada, jadi asumsi perihal high thermal inertia = memiliki mohs scale hardness yang tinggi juga bisa salah.

 

 

Adam Harits, GG

GRI Gemologist

 

 

 

Legenda Sintetik

 

Belum lama ini, saya ngobrol-ngobrol santai dengan salah satu pedagang batu yang sarat pengalaman di Pasar Batu Rawabening (JGC), Pak Fafan. Beliau katakan pada saya bagaimana masyarakat awam yang datang untuk beli batu sering kali minim pengetahuan dan informasi, akibatnya pada banyak kesempatan, alih-alih mendapatkan batu yang sesuai, mereka justru tertipu. Pak Fafan cukup khawatir akan situasi dan kondisi seperti ini. Karena itu beliau  menyarankan saya untuk mengulas beberapa batu sintetik yang cukup populer dan sering menjadi senjata bagi para oknum yang gemar memanfaatkan ketidak tahuan masyarakat awam ini.

Batu asli atau palsu sih?

Anda tentunya familiar dengan batu Ruby ataupun Sapphire, kan? Kedua batu ini sangat populer karena warna, kelangkaan serta stabilitas nilai yang mereka punya, sehingga kedua varian dari Corundum ini menjadi batu yang sangat diminati masyarakat. Coba deh, jika kalian sebut Chrysoberyl, mungkin masyarakat yang awam di dunia batu masih ada yang tidak tahu, tapi jika anda sebut Ruby ataupun Sapphire, hampir semuanya pasti tahu, atau setidaknya pernah dengar. Permintaan terhadap Ruby dan Sapphire ini sangat tinggi, dan cenderung tidak sebanding dengan ketersediaannya, yang akhirnya menyebabkan Ruby dan Sapphire berkualitas semakin hari semakin tinggi harganya. Akibatnya,  pelaku pasar menjadi sangat kreatif, mereka akhirnya memutar otak mencari cara bagaimana agar Ruby dan Sapphire kualitas rendah juga diminati hingga mencari alternatif pengganti yang harganya lebih terjangkau. Hasilnya adalah berkembangnya industri treatment batu permata yang sangat pesat guna mempercantik batu Ruby dan Sapphire berkualitas rendah agar juga dapat diperjual belikan serta tumbuhnya industri Sintetik Corundum yang cukup besar. Pada pembahasan kali ini saya tidak akan membahas industri treatment, karena kurang relevan dengan topik yang sedang dibahas. Justru saya akan mengulas secara singkat perihal Sintetik Corundum.

Saudara kembar yang diciptakan melalui serangkaian proses didalam laboratorium ini muncul sebagai alternatif  yang lebih terjangkau harganya dibanding natural Ruby dan Sapphire. Permasalahannya, alternatif batu natural ini sering kali disalah artikan sebagai batu natural. Pertanyaannya, kenapa sampai terjadi seperti itu? Jika kita urutkan rangkaiannya, supplier besar batu sintetik ini tentu menjual sebagai sintetik, sampailah batu ini di pasar Indonesia. Disini lah masalah itu dimulai, karena tahukah anda bahwa batu-batu sintetik ini ternyata tidak serta merta dijual dengan sebutan sintetik Ruby ataupun sintetik Sapphire? Hampir sebagian besar pelaku pasar menyebutnya dengan nama-nama yang sudah melegenda, seperti American Star, Merah Siam dan King Sapphire. Karena itu, saya akan coba mengulas dengan singkat tentang ketiga batu legenda tersebut.

American Star

DSC_3065

American Star, hmm keren. Saya pribadi suka dengan istilah ini, meski saya bingung maksudnya apa? Kenapa musti American? Kenapa gak sekalian Burmese Star? Kan ruby terbaik justru berasal dari Burma. Ntah lah, mungkin menggunakan nama Amerika ini tanpa sadar sangat menjual, hehe. Jadi, apa sih American Star itu? Batu ini sejatinya adalah Sintetik Star Ruby. Fenomena Starnya bukan berasal dari needle yang pada umumnya ditemukan apda batu natural, tetapi dari serangkaian proses yang memang dilakukan untuk menghasilkan fenomena selayaknya star.

 

Merah Siam

DSC_3060

Asal mula nama Merah Siam ini sebetulnya berasal dari kata Siam. Siam adalah nama lain dari negara Thailand. Dari apa yang saya ketahui, negara Thailand memang merupakan penghasil batu sintetik terbesar di dunia selain Tiongkok, dan karena biasanya pemain batu di Indonesia memasukan barang dari Thailand, pada akhirnya mereka menyebut batu sintetik Ruby dari Thailand sebagai Merah Siam. Jadi sudah jelas bahwa batu Merah Siam ini adalah batu Sintetik yang namanya sudah sangat melegenda.

King Sapphire

DSC_3064

Nah, bagian ini yang menurut saya cukup menarik. Jadi ketika diskusi dengan pak Fafan, beliau bilang ke saya, kalau baru-baru ini banyak King Sapphire baru masuk dan dari Thailand,  Menariknya, menurut pak Fafan, King Sapphire ini lebih berat dan padat dari King Sapphire yang sudah banyak di Indonesia dari dulu. Ada yang aneh dengan hal ini. Kok sama-sama King Sapphire bisa beda-beda berat kepadatannya? Harusnya ya sama. Pikiran saya tentu King Sapphire ini sama dengan saudara-saudara lainnya, si Merah Siem dan si American Star, yaitu ya masih keluarga sintetik Corundum. Saya cukup kaget ketika memeriksa sample yang diberikan pak Fafan, ternyata King Sapphire ini adalah Cubic Zirconia! Jelas saja secara berat jauh lebih berat dan terasa lebih padat. Cubic Zirconia memiliki berat jenis ampai 6.00 sedangkan Sapphire hanya 4.00. Jadi dapat saya ambil kesimpulan bahwa mereka berusaha mengimitasi blue Sapphire saat ini bukan hanya dengan bahan sintetik, namun juga dengan bahan lain, dan dalam kasus ini adalah Cubic Zirconia.

 

Saya harap artikel singkat ini dapat bermanfaat dan dapat membantu masyarakat umum guna memahami istilah-istilah yang rawan disalah artikan.

 

Terima kasih.

ALERT: New opal treatment; Dyed and colorless resin by Adam Harits, G.G (GRILab)

Recently, our reliable friends have sent us ten samples consisting of Indonesian Opal material before and after heavily treated. Normally, Opals are smoke and sugar treated to darken the body color. In this case, its quite different. This article will briefly explain the characteristic of those opal, before and after treatment, thus helping us understanding better on how to identify such treated opal. Please note that to be able to identify it, at least a standard gemological microscope is compulsory.

The aim of this treatments on these Opal is to completely change the body color from white to black and then improving its durability while at the same time its appearance by covering it with thick colorless resin.

Read more from PDF;

ALERT: new opal treatment; Dyed and colorless resin english version

Versi bahasa Indonesia:

ALERT: new opal treatment; dyed and colorless resin bahasa version

 

Perbedaan dimensi pada batu mulia, sejauh mana batasannya?

Melihat banyaknya kasus akhir-akhir ini, dimana hasil pemeriksaan dari satu lab dibandingkan dengan lab lainnya, saya tertarik untuk membahas sedikit saja tentang dimensi pada batu mulia.
Biasanya, masyarakat umum akan membahas setiap sisi perbedaan yang terdapat dalam laporan tersebut. Mulai dari perbedaan jenis batu yg tercantum (tentunya :p), berat, cutting, shape, foto, warna, comment, origin, dan bahkan yang paling luar biasa perbedaan dimensi. Nah pertanyaannya, sejauh mana perbedaan dimensi dapat dimaklumi? 
Begini, dimensi tentu penting dalam menentukan apakah batunya sama atau tidak. Tapi harap di garis bawahi, ini penting, kita berbicara dimensi dengan skala ukuran (mm). Bukan centimeter (cm). 
Kedua, yang lebih dahsyatnya lagi, kita berbicara dua angka dibelakang koma/titik. Betul ya? Karena biasanya perbedaan terdapat di dua angka belakang koma/titik

Saya beri contoh:
Lab A: 8.54 x 5.27 x 2.90 (mm)

Lab B: 8.50 x 5.23 x 2.86 (mm)

Lab C: 8.57 x 5.26 x 2.93 (mm)

“Waahh dimensinya beda! Batunya beda nih”
“Waduh parah ni lab-lab, masa dimensinya gak ada yg sama, gimana sih??”

“Wah ini gak jelas jadi batunya beda apa labnya yg gak bener sih?”

Biasanya begini respon-respon yang sering sekali saya temui. Halo om tante bapak ibu mas mbak, dua angka dibelakang koma itu perbedaanya mungkin baru keliatan klo kita pake kaca pembesar! Jadi gak mungkin dimensi akan sama persis. Saya ulangi, tidak mungkin. 
Yang diukur ini mm sekali lg saya tekankan. Kita ganti alat ukur dimensi kita yang lama dengan yang baru aja pasti juga dua angka dibelakang koma gak akan ada yang sama. Gak percaya? Coba beli alat ukur dimensi, beli 2 aja. Lalu test sendiri. Jadi kalo kasus kayak diatas, itu bukan human error, tapi memang begitu adanya. Batunya sama? Ya sama lah om. Jadi klo ada Lab gak terima complain dan berkilah bahwa dimensinya beda tuh, batunya paling beda, itu bullshit. Untuk kasus kayak contoh diatas loh ya. 

Kalo kasusnya begini baru beda cerita:

Lab A: 7.55 x 3.65 x 2.22 (mm)
Lab B: 6.12 x 3.33 x 2.75 (mm)

Ini baru ada dua kemungkinan, pertama, batunya beda atau kedua, yang ngukur dimensinya sambil ngigo. 

Mudah-mudahan pada paham ya. Ayo lah dewasa dalam mengkritisi sesuatu, dan pihak yg di kritik juga harus jujur. 

OBRAL INTEGRITAS: Terlena dengan budaya membodohi sesama


Gila juga liat “lab” yg asal sebut origin. Dari sekian banyak penulisan Origin yg asal-asalan, paling dahsyat itu ketika Moldavite ditulis Origin Ceko. Ini kan levelnya sudah sampai tahap mengkhawatirkan. Coba dong berikutnya tulis juga origin ‘Gemologist’nya hehehe. 

Saya selalu bilang ke customer yang nanya kenapa batu a, batu b, batu c, gak bisa dicek originnya? Saya selalu jawab, anda mau saya copy origin dari google terus cantumkan di sertifikat? Bisa aja gampang itu, tinggal copy, masuk kantong juga lebih kok. Enak disaya tp rugi di anda. Bayar mahal-mahal eh dibohongin. Modal bohonginnya cuma langganan internet perbulan pula supaya bisa akses mbah google. Huhu. Sedih gak, sih? 
Wahai para praktisi “lab” kembali lah ke jalan yg lurus. Jangan terus-terusan gadaikan integritas dan kredibilitas kalian demi keuntungan semata. Its not worth it. Berikan edukasi yg bermanfaat, bukan terus-terusan terlena dengan budaya membodohi sesama. 
Berbenah lah sebelum terlambat. 

Sekian dan terima kasih.

Adam Harits, G.G

Keterangan:

*Lab tanda kutip. Berarti saya tidak anggap praktisi ini sebagai lab. 
*Status ini tidak dibuat untuk menyinggung Lab yg dibangun penuh tanggung jawab seperti lab kawan-kawan saya yg tergabung dalam wadah diskusi gemologist. Dan tidak alasan juga bagi kawan-kawan saya untuk tersinggung karena celotehan ini juga mungkin sudah lama menari-nari dipikiran mereka. Saya gak perlu sebut satu-satu ya. 
*saya tidak membahas kesalahan lab, karena sehebat apapun akademisi didalamnya, pasti lab pernah salah. Lab terbaik dan terbesar didunia yang menjadi kiblat dunia batu permata pun pernah melakukan kesalahan. Apalagi kita yg masih terus belajar meningkatkan kualitas agar menjadi yang terbaik. Yang saya bicarakan disini konteksnya adalah pembohongan dan pembodohan publik. 

Pseudo Padparadscha

Pseudo Padparadscha

By Adam Harits, G.G and Ser Yuan Tan, G.G and Geologist.

Baru-baru ini kami menerima batu permata Sapphire, dengan perpaduan warna orangy-pink yang cukup baik. Bagi yang belum mengetahui, perpaduan orangy-pink pada batu Sapphire dapat di klasifikasikan sebagai Padparadscha. Selain perpaduan orangy-pink (dominan pink dengan campuran orange), warna pinkish-orange (dominan orange dengan campuran pink) dan orange-pink/pink-orange (perpaduan sempurna) juga dapat diklasifikasikan sebagai padparadscha. Ada dua batu permata Sapphire yang masuk ke kami hari ini, satu terlihat orangy-pink dan satu lagi terlihat orange & pink.

Dari pengamatan mata biasa, jelas sekali salah satu dari dua batu tersebut adalah padparadscha. Yang menarik perhatian adalah ketika kami melakukan analisa microscopic, ternyata warna orange yang terlihat secara visual tanpa bantuan loupe/microscope ternyata berasal dari inklusi.

Secara umum warna terjadi dikarenakan adanya penyerapan panjang gelombang cahaya dari trace elements pada suatu benda baru kemudian memantulkan panjang gelombang yang dapat terserap benda tersebut sehingga menghasilkansuatu warna tertentu. Begitu juga warna yang kita lihat pada batu permata. Sedangkan yang kami dapati pada pembahasan ini adalah adanya distorsi warna yang disebabkan inklusi yang ditunjang dengan cutting batu permata tersebut. Facet pada cutting suatu batu permata juga berperan besar dalam memantulkan gelombang cahaya ke pengelihatan kita.

Inklusi berwarna kuning/orange yang kami maksud disini adalah iron stain. Iron stain sendiri biasa ditemukan pada Corundum yang berasal dari wilayah magmatic, seperti Madagascar, dan juga wilayah Metamorphic seperti Sri lanka. Jika kita perhatikan pada foto dibawah ini, dapat terlihat bahwa warna pada batu tersebut hanya pink saja. Seluruh komponen orange murni berasal dari iron stain.

 

Inklusi iron Stain2
pembesaran 40X
Inklusi iron Stain3
iron stain
Inklusi Iron Stain di crack
iron stain yang cukup besar

Inklusi iron Stain

 

Dalam prosesnya, Hujan yang turun membasahi tanah masuk kedalam permukaan bumi dan membersihkan iron dari sedimen, dimana ketika terjadi kontak dengan mineral Corundum, air yang sudah mengandung iron tersebut mengisi celah-celah/crack pada Corundum. Air dalam celah-celah pada Corundum biasanya akan menguap, sehingga meninggalkan iron tersebut yang pada akhirnya menyatu dengan crack. Benar bahwasanya Iron adalah suatu element dan merupakan salah satu element yang dapat menyebabkan suatu warna, tetapi hal itu hanya bisa terjadi apabila iron berdiri sendiri. Sedangkan dalam pembahasan kali ini, element iron sudah berubah menjadi suatu inklusi solid yang terkontaminasi dengan celah-celah/crack pada batu permata Corundum.

Ini lah yang kami sebut sebagai “pseudo” padparadscha. Tentu istilah ini tidak kami cantumkan dalam laporan kami, namun hanya istilah yang kami gunakan agar mudah bagi kita semua memahami perbedaannya, mana padparadscha sungguhan dan mana yang bukan.

Kami harap informasi singkat ini dapat bermanfaat.

 

 

Terima kasih

Adam & Yuan

Photo by: Mingma Sherpa, D.G.I., G.G.

 

References:

http://gemologyproject.com/wiki/index.php?title=Causes_of_color#Electron_color_centers

https://www.itp.uni-hannover.de/~zawischa/ITP/origins.html

https://www.gemsociety.org/article/gem-formation/

Photo Atlas, Volume. 3

 

LATEST FINDINGS: “MACAN PUTIH” MINERAL REPORTED

IMG_4058

Belum lama ini, kami menerima beberapa sample specimen dari pegiat batu mulia Nusantara, bapak Muhammad Yusuf Alfarisi. Sample tersebut berasal dari Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kabupaten Muna, Kecamatan Maligano, Desa Lapole. Beberapa informasi yang kami dapat perihal  mineral ini dikenal dengan sebutan “Macan Putih”, sedangkan secara umum, masyarakat menyebutnya dengan “Pirus Putih” (White Turquoise). Di Amerika, tepatnya Nevada, ada salah satu tambang yang menghasilkan mineral sejenis dengan yang ditemukan di Indonesia belum lama ini. Batu tersebut mereka sebut sebagai “White Buffalo”. Meski secara penampilan terlihat ada beberapa perbedaan dengan batu “Macan Putih” yang ditemukan di Indonesia, nyatanya propertis “Macan Putih” dengan “White Buffalo” sama.

Selengkapnya silahkan klik link PDF dibawah:

Macan Putih PDF

Treatment pada batu mulia (Gemstone Treatments)

 

316609_167822503311689_520726841_nTahukah anda bahwa treatment pada batu mulia sejatinya telah ada sejak dua ribu tahun yang lalu? Meski begitu, penjelasan awal mengenai treatment pada batu mulia baru dijabarkan oleh Pliny the Elder, seorang Filsuf Romawi yang hidup pada tahun 23 – 79 Masehi. Ia menulis mengenai banyak hal, seperti astronomi, biologi, pertanian dan lainnya, termasuk didalamnya mengenai treatment pada batu mulia. Pliny menjelaskan bagaimana minyak, dan pewarnaan dapat digunakan untuk meningkatkan penampilan batu mulia. Treatment, khususnya pada batu mulia dapat diartikan sebagai suatu proses perawatan terhadap batuan yang bertujuan untuk meningkatkan penampilan batu mulia dalam beberapa aspek.

Perkembangan treatment batu mulia pada saat ini sudah jauh diluar dugaan banyak pihak. Bahkan mungkin pelaku treatment itu sendiri. Dua sampai tiga puluh tahun yang lalu, treatment pada batu mulia tidak sebanyak saat ini. Pada saat itu, treatment yang sudah menjadi perhatian publik dan menjadi rahasia umum salah satunya adalah Emerald. Jadi tiga puluh tahun yang lalu, hampir sebagian besar pecinta batu mulia tidak terlalu khawatir akan treatment pada batu mulia. Kondisi tersebut tentu jauh berbeda dengan situasi saat ini, dimana para pelaku batu mulia, baik penjual, pembeli serta institusi terkait semakin kritis dan peduli terhadap treatment itu sendiri.

Menarik memang jika melihat fenomena treatment pada batu mulia dari kacamata pecinta batu permata. Di satu sisi, treatment menimbulkan kerancuan serta kebingungan. Apalagi bagi yang masih awam dalam dunia perbatuan. Namun, jika kita melihat dari sudut pandang yang berbeda, sejatinya treatment juga memiliki dampak positif bagi kelangsungan pasar batu mulia dalam skala global. Pernahkah anda membayangkan, berapa banyak batu permata yang tidak dapat diperjual belikan, karena clarity yang kurang baik, atau warnanya yang tidak cukup atraktif? Contoh paling mudah yang dapat sedikit memberikan gambaran adalah mineral Corundum. 95% Corundum telah ditreatment dengan  pemanasan. Saya asumsikan tanpa adanya heat treatment pada Corundum maka kita hanya dapat melihat Corundum yang indah sesekali dengan harga yang tidak masuk akal. Tentu transaksi perdagangan Corundum akan sedikit banyak terhambat.

Treatment pada dasarnya memiliki tujuan yang berbeda-beda, tergantung jenis batu yang akan di treatment. Berikut adalah tujuan umum dari treatment;

  1. Merubah, meningkatkan ataupun menghilangkan warna pada batu
  2. Meningkatkan kejernihan
  3. Meningkatkan luster (kemilau)
  4. Mingkatkan ketahanan

Beberapa jenis treatment yang sudah dikenal secara umum adalah heat treatment (pemanasan), irradiation (Radiasi), dyeing (pewarnaan), fracture filling, lattice diffusion, bleaching, impregnation, dan sugar and smoke treatment.

 

Heat treatment

tradisional heat
Traditional method of heating. Source:GIA

 

Heat treatment (pemanasan) merupakan salah satu treatment yang paling umum dikenal dan sudah cukup lama dilakukan. Proses heat treatment dapat dilakukan secara tradisional, seperti yang banyak dilakukan masyarakat Sri Lanka, ataupun proses pemanasan yang lebih canggih dengan menggunakan alat-alat besar seperti di Thailand. Tingkat keberhasilan dari proses heat treatment ini ditentukan dari Beragam faktor, mulai dari temperatur, rasio ketika memanaskan dan mendinginkan, waktu, udara disekitar, komposisi kimia dari batu mulia yang dituju serta peralatan yang digunakan. Karenanya tidak kaget apabila Ahli-ahli treatment sangat dihargai ilmunya oleh pecinta batu mulia.  Pemanasan batu mulia dapat dimulai dari 400 derajat celcius sampai 1800 derajat celcius keatas, tergantung tujuan dan jenis batu mulianya. Sejatinya, dalam proses pembentukan suatu mineral, juga melibatkan tekanan dan panas yang sangat tinggi dalam perut bumi, dan heat treatment dapat diterima secara luas karena prosesnya yang sedikit banyak mengadopsi cara kerja alam ketika proses pembentukan mineral terjadi. Dewasa ini, heat treatment pun ada yang melibatkan chemical seperti Borax, Lead Glass, Resin, dan bahkan yang terkini melibatkan elemen Cobalt guna memberikan warna biru.

ruby
Before (left) and after (right) heated. Source: http://www.tnjcolors.com

Tujuan utama dari heat treatment adalah untuk memodifikasi warna pada batu mulia yang dituju. Harap diperhatikan bahwa ada heat treatment pada batu mulia ada yang dapat di deteksi dan diklasifikasikan (Ruby dan sapphire), dan ada juga yang sifatnya tidak dapat terdeteksi dan sudah cukup lumrah (Tanzanite, Amethyst, Citrine, Ametrine, Zircon, Aquamarine, Amber, Topaz, Tourmaline, Kunzite dan lainnya).

 

Lattice Diffusion

Lattice diffusion adalah treatment yang cara kerjanya hampir sama dengan heat treatment, hanya saja, treatment ini secara khusus memasukan elemen iron dan titanium kedalam Corundum sedalam 0.01 mm – 0.50 mm dari permukaan batu. Agar kedua elemen diatas dapat masuk, dibutuhkan pemanasan yang sangat tinggi, bahkan hampir mendekati titik leleh Corundum, yaitu pada suhu 2050 derajat celcius. Baru-baru ini, Lattice diffusion juga ditemukan pada Spinel.

 

Fracture Filling

Satellite (2)
Filling in Natural Emerald. Source: GIA

Fracture Filling adalah pengisian minyak/resin yang tidak berwarna dengan tujuan menyamarkan crack (retakan halus) pada batu guna meningkatkan kejernihan batu tersebut. Crack yang tadinya terlihat jelas lantas akan menjadi samar karena terisi oleh material tersebut. Fracture filling umumnya dilakukan pada Emerald dan juga Corundum. Bedanya, pengisian oil/resin pada Emerald tidak memerlukan proses pemanasan. Hal ini tentu berbeda dengan pengisian glass pada Ruby, dimana pemanasan hingga suhu 900 derajat celcius dibutuhkan agar glass dapat masuk.

Different Luster in Natural Lead-Glass Filled Ruby
salah satu indikasi adanya fracture filling dengan proses hear + lead glass pada Natural Ruby. Source: GRI inclusion gallery

 

Bleaching

Bleaching adalah suatu treatment yang bertujuan untuk menghilangkan warna atau setidaknya mengurangi dengan menggunakan bahan kimia tertentu. Tujuannya tentu untuk meningkatkan penampilan batu yang kurang menarik, bisa dikarekan adanya flek hitam, atau inklusi yang mengganggu penampilan batu secara keseluruhan.

 

Colorless Impregnation

Colorless impregnation pada dasarnya yaitu suatu proses dimana wax, resin, atau polymer yang sudah meleleh digunakan untuk mengisi pori-pori atau juga retakan pada batu tertentu. Turquoise adalah salah satu batu yang sangat umum ditreatment dengan cara ini. Tujuannya adalah selain meningkatkan penampilan, juga untuk meningkatkan ketahanan batu tersebut.

 

Dyeing

Satellite (1)
Dyeing in Natural Agate. source : GIA

Salah satu treatment yang paling ‘uzur’, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu. Cara kerjanya adalah dengan memasukan warna tambahan kedalam batu. Metodenya pun bermacam-macam. Umumnya, batuan yang memiliki pori-pori atau juga crack sangat mudah untuk dilakukan pewarnaan. Chalcedony dan Lapis Lazuli merupakan jenis batuan yang sangat sering kita temukan telah di dyed.

 

Coating

 

coating layer in natural emerald
Coating layer in Natural Emerald. Source: GRI inclusion gallery

Coating dilakukan dengan melapisi permukaan batu, biasanya pada bagian bawah atau belakang batu, untuk memberikan warna yang diinginkan. Misal, pada Emerald yang berwarna hijau muda, dilapis agar menjadi hijau pekat.

 

Sugar And Smoke Treatments

 Kedua treatment ini biasanya dilakukan pada Opal dengan tujuan menggelapkan/menghitamkan warna dasar dari Opal itu sendiri. Sugar treatment dilakukan dengan cara merendam Opal dalam larutan gula yang panas dalam beberapa hari, baru setelahnya direndam dalam cairan asam sulfat (sulfuric acid) dan dipanaskan pada suhu 100 derjacat celcius, satu sampai dua hari. Cairan asam akan merubah gula menjadi carbon, yang pada akhirnya menggelapkan atau menghitamkan Opal.

Smoke treatment dilakukan dengan cara membungkus Opal dengan kertas, lalu dilapis alumunium foil, dan setelahnya kembali dilapis dengan kertas cokelat. Setelah Opal terbungkus, berikutnya dilakukan pemanasan sampai kertas pembungkus berubah menjadi carbon. Smoke treatment ini tidak terlalu umum dilakukan dibanding dengan Sugar treatment.

Irradiation

Satellite (4)

Treatment radiasi dengan x-rays atau gamma rays bertujuan untuk merubah warna pada batu. Treatment radiasi sebenarnya dapat diaplikasikan pada banyak jenis batu, seperti Chrysoberyl, Corundum, Beryl, Spodumene, Topaz, dan banyak lainnya, namun dikarenakan setiap batu memiliki reaksi, serta ketahanan radioaktif yang berbeda ditambah efek samping yang berbahaya bagi manusia, treatment radiasi tidak lah popular.

Radiasi pada Topaz adalah pengecualian. Topaz adalah salah satu batu dimana zat radioaktif tidak bertahan lama. Sebagai perbandingan, zat radioaktif karena radiasi pada Chrysoberyl dapat bertahan sampai lebih dari lima tahun. Sedangkan pada Topaz hanya beberapa bulan saja sampai pada tahap radioaktif tersebut tidak lagi berbahaya. Nuclear Regulatory Commission (NRC) bahkan mempunyai peraturan khusus untuk setiap Topaz hasil radiasi yang ingin di edarkan.

 

Dapat dipastikan kedepannya akan banyak treatment-treatment baru yang bermunculan. We just have to be prepared, cepat mempelajari dan memahami, agar tidak salah dalam menyikapi setiap treatment baru yang akan muncul.

 

Adam Harits, G.G.

Referensi:

 

Treatments. (2002). USA: Gemological Institute of America

Weldon, Robert. An Introduction to Gem Treatments. USA: Gemological Institute of America.

Waitz, Roland and High Therm, Linn. Heat Treatment of Gemstones

Soe Moe, Kyaw., Moses, Thomas., Johnson, Paul. (2007). Polymer-Impregnated Turquoise. USA: Gems and Gemology

Nassau, Kurt. (1984). The Early History of Gemstone Treatments. USA: Gems and Gemology.

Gemstones Information Manual. [n.d]. diperoleh pada Februari 4, 2016 dari website: http://www.agta.org/gemstones/agta-gim.pdf

Colored Gemstones. [n.d]. diperoleh pada Februari 6, 2016 dari website: http://www.sgtk.ch/rkuendig/dokumente/FS2013_Gemstones_c.pdf

Irradiated Gemstones. [n.d]. diperoleh pada Februari 7, 2016 dari website: https://www.ohio.edu/riskandsafety/radiationsafety/irradiated.htm

Irradiation Gemstones. [n.d]. diperoleh pada Februari 7, 2016 dari website: http://www.yourgemologist.com/irradiation.html

Backgrounder on Irradiated Gemstones. [n.d]. diperoleh pada Februari 7, 2016 dari website: http://www.nrc.gov/reading-rm/doc-collections/fact-sheets/irradiated-gemstones.html

How are Gemstones treated and enhanced. [n.d]. Diperoleh pada Februari 6, 2016 dari website: https://www.gemsociety.org/article/gemstone-treatment-and-enhancement/

 

 

 

 

 

 

 

Tips-tips dalam memilih Gems Lab (Laboratorium Batu Permata) yang dapat diandalkan.

Cukup banyak saya temui gemslover yang berkeluh kesah akan banyaknya gems lab baru yang bermuculan, dimana terkadang, menurut mereka hasil yang dikeluarkan dapat mengerutkan dahi. Oleh karena itu selanjutnya akan saya jelaskan enam tips yang dapat membantu anda dalam ‘menganalisa’ apakah Gems Lab tersebut dapat diandalkan.  Pertama, anda perlu sedikit banyak mencari tahu latar belakang dari Gems Lab tersebut. Kedua, tidak ada salahnya jika anda bertanya-tanya alat apa saja yang digunakan dalam proses pemeriksaan. Ketiga, yang terpenting dari semuanya, anda harus mencari informasi mengenai Gemolog yang bertanggung jawab. Keempat, mencermati kontribusi Gems Lab dalam skala nasional maupun internasional. Kelima, mempelajari sistem keamanan yang diimplementasikan Gems Lab. Dan yang keenam adalah menilai profesionalisme mereka. Berikut penjabarannya;

1. Latar belakang Gems Lab 

Latar BelakangInformasi mengenai Gems Lab harus lah mudah diakses atau diketahui Gemslover. Ini berarti Gemslover dapat dengan mudah mencari asal usul Gems Lab tersebut dan dapat mengetahui segala informasi mengenai hal-hal detail dari suatu Gems Lab (mempunyai website, halaman facebook, contact person yang dapat dicari dengan mudah, dan sebagainya). Gems Lab juga haruslah Independent atau lepas dari Intervensi pihak-pihak tertentu. Dengan begini, diharapkan gemslover mendapatkan gambaran, setidaknya, apakah Gems Lab ini sungguh-sungguh dan dibangun dengan penuh keseriusan, atau….. hanya profit oriented semata?

2. Peralatan yang memadai

Laboratorium batu permata harus memiliki alat-Peralatanalat yang lengkap guna menganalisa batu mulia secara maksimal. Paling tidak, peralatan-peralatan standar, seperti Mikroskop, Refractometer, Polariscope, Spectorscope, Dichroscope, Alat timbangan berat jenis, dan beberapa perlatan standar lainnya yang dapat anda baca lebih jauh di http://jesse-taslim.com/2015/08/26/peralatan-standar-untuk-gemologi/. Selanjutnya juga ada peralatan Advance seperti UV-ViS, FTIR, Raman, LIBS Test, dan lainnya.

3. Gemologist

Gemologist

Bagi saya ini merupakan esensi terpenting dari Gems Lab. Pertama, Gems Lab harus di isi oleh Gemologist yang telah mengeyam pendidikan ilmu Gemologi di beberapa Institusi dunia. Mendapatkan gelar “Gemologist” tidak lah semudah hanya mengikuti kursus singkat, atau sekedar sekolah online yang hanya memakan waktu beberapa minggu atau satu dua bulan. Sekedar informasi, untuk lulus dari Gemological Institue of America (GIA), para calon Gemolog di haruskan sekolah intensif selama 7-10 bulan, dalam rentang waktu tersebut, calon Gemolog diwajibkan menyelesaikan course mengenai Diamond (Berlian), baru kemudian lanjut untuk menyelesaikan Color Stones (Batu Mulia). Jika para calon Gemolog tidak menyelesaikan keduanya, maka tidak akan bisa mendapatkan gelar tertinggi dari GIA, yaitu Graduate Gemologist (G.G). Begitu juga dengan Institusi lainnya. Bahkan, Gem-A di Inggris memakan waktu lebih kurang dua tahun untuk menyelesaikan keseluruhan studi Gemologi programnya.

Lantas, apakah setelah selesai sekolah Gemolog langsung bisa membuka “praktek”? well, sekolah hanya mengajarkan dasar, diperlukan pengalaman lebih lanjut jika ingin membuka “praktek”, karena pada dasarnya, batu-batu yang akan diteliti seorang Gemolog itu jauh lebih rumit dari batu-batu yang diajarkan ketika sekolah. Atas dasar itu, selesai mengeyam pendidikan, Gemolog harus lah mengikuti pelatihan terlebih dahulu setidaknya 3-6 bulan dengan bimbingan Gemolog lainnya yang lebih senior dan berpengalaman. Diatas sudah saya paparkan mengenai alat-alat standar dan advance dalam dunia gemologi, namun, peralatan secanggih apapun tidak akan memiliki arti apabila tidak didukung oleh skill Gemolog yang mumpuni. Mengapa demikian? Karena sejatinya, alat-alat diatas hanyalah “pembantu” seorang Gemolog dalam menganalisa. Cara kerja alat-alat tersebut tidak seperti mesin barcode, yang otomatis dapat mengeluarkan data ketika disorot. Gemologist lah yang menentukan dengan bantuan alat-alat tersebut. Jadi sekali lagi saya tekankan, skill seorang Gemolog lebih penting dari peralatan yang paling canggih sekalipun. Anda last but not least, seorang Gemolog yang bekerja disuatu lab, tidak boleh jual-beli batu permata guna menjaga kredibilitas serta menghindari adanya conflict interest.

4. Kontribusi

KontribusiGems Lab yang baik juga dapat dilihat dari kontribusinya terhadap perkembangan ilmu serta pasar batu mulia. Hal ini dapat dicermati dari riset-riset yang dilakukan Gems Lab tersebut dengan bantuan para Gemolog ahlinya, keterlibatannya dalam seminar-seminar atau talkshow mengenai batu mulia dan sebagainya.

5. Keamanan

keamananKemanan yang saya maksud ada dua; pertama, tempat. Di dalam Gems Lab terdapat banyak batu klien yang sedang diperiksa dan disimpan, karenanya keamanan, mulai dari kamera pengintai (CCTV), system penguncian pintu, dan beberapa alat demi keamanan lainnya harus ada. Kedua, keamanan yang saya maksud adalah system dan material sertifikat yang tidak mudah untuk dipalsu. Bayangkan jika sertifikat dengan material yang asal-asalan, ditambah tidak adanya database berbasis online yang dapat diakses pemilik batu untuk mengetahui keaslian sertifikat yang dipegangnya, tentu dapat merugikan banyak pihak, bukan?

6. Profesionalisme

ProfesionalTentunya Gems Lab harus menjunjung tinggi profesionalisme, dimulai dari jajaran Gemolognya, staff dan crew yang menjadi bagian Gems Lab tersebut. Gemolog yang profesional akan selalu berada di Laboratorium dan secara langsung menangani serta menganalisa setiap batu mulia yang masuk. Dimana ini adalah pekerjaan utama seorang Gemolog. Jika anda menemukan gems lab yang tetap buka  ketika Gemolognya “jalan-jalan”, anda WAJIB menanyakan kepada staff yang bekerja disana, siapa yang memeriksa batu anda. Anda tidak mau kan, periksa ke dokter namun yang memeriksa anda seorang suster? Lalu berikutnya pada jajaran staff dan crew dapat  anda nilai dari bagaimana mereka menghadapi customer, menerima masukan dan complain, serta peduli terhadap segala kebutuhan pelanggan.

Demikian keenam kriteria utama yang harus ada pada Gemstone Laboratory. Semoga bermanfaat. Terima kasih

Adam Harits, G.G (GRILab)

Design by Ashari